Franz Magnis Suseno: Kagum Budaya Jawa

Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat (STF) Driyarkara Franz Magnis Suseno SJ, sangat kagum dengan budaya dan adat masyarakat Jawa. Pria kelahiran Eckersdorf, Silesia, Jerman tahun 1936 ini sempat menghabiskan waktunya lebih dari 4 tahun bergumul dengan budaya Jawa yang menurutnya penuh dengan etika moral. Dia mengambil banyak pelajaran dari kebudayaan Jawa yang sarat akan nilai-nilai kemanusiaannya.

Romo Magnis – sapaan akrabnya – pertama kali masuk ke Indonesia melalui pintu tanah Jawa (1961), yang tepatnya di Girisonta, Jawa Tengah dan kemudian menghabiskan waktu empat tahunnya di Yogyakarta. Tidak mustahil bila Rohaniawan ini mengetahui betul kebiasaan dan prilaku sehari-hari masyarakat Jawa.

Oleh karena kekagumannya terhadap kebudayaan masyarakat Jawa, dia sampai menulis buku berjudul; Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa (1984). Sungguh menarik, Romo Magnis mengatakan, ketertarikannya tersebut dilandaskan oleh prilaku hidup orang-orang Jawa yang toleran, ramah tamah dan kerja keras.

“Budaya Jawa; Tentu tidak bisa digambarkan dengan mudah dan singkat. Tetapi saya terkesan dengan keramah-tamahanan penduduknya. Hal ini saya nilai sebagai nafas panjang budaya yang tinggi dengan tingkat kebijaksanaan yang mengesankan. Di Jawa saya melihat orang-orang yang berbudaya dan beradab. Pendek kata, saya terkesan dengan kualitas kemanusiaan mereka,” begitu Romo Magnis mengungkapkan ke kagumannya.

Bahkan, yang dilakukannya pertama kali di Indonesia adalah bagaimana upayanya untuk menguasai bahasa Jawa dengan matang, bukan bahasa Indonesia . Sebab, mau tidak mau sebagai pemangku agama di gereja dia harus berinteraksi secara langsung dengan penduduk di sekitar tempat tinggalnya tersebut. “Lantaran itu bahasa Jawa saya masih sangat medok kayak orang Jawa asli,” selorohnya.

“Dahulu, saya belajar bahasa Jawa 13 bulan lamanya, baru kemudian bahasa Indonesia. Saya cukup lancar berbahasa Jawa sampai sekarang, tapi ya sudah tidak begitu sering dipakai, jadi agak sedikit kaku kalau ngomong Jawa,” urainya.

Dikatakan, sikap budaya Timur orang Indonesia ditunjukkan dalam kegiatan sehari-hari misalnya membantu orang lain, peduli dengan tetangga, dan yang paling saya segani adalah masyarakat Jawa begitu toleran terhadap kalangan yang berbeda keyakinan. “Makanya kemudian saya langsung kerasan tinggal di Indonesia karena tidak ada perasaan mereka akan mengganggu saya dan saya pun bisa nyaman membantu teman-teman di gereja.”

“Saya terkesan dengan budaya Jawa yang kemudian dalam aplikasinya mampu memiliki karakteristik budaya yang berbeda dengan daerah atau negera lainnya. Kalau saya boleh bilang dalam filsafat Jawa itu mereka njawani (bersikap baik kepada siapapun). Hal ini yang membuat saya kerasan di Indonesia sampai saat ini,” urai Romo yang mulai menginjakkan kakinya di Indonesia sejak usia 25 tahun ini.

Dikatakan, etika Jawa mencerminkan nilai-nilai manusiawi, yang pantas menjadi salah satu pedoman alternatif menghadapi tantangan modernisasi. Sebab, budaya Jawa merupakan sebuah corak etika Barat, karena memiliki gambaran yang khas tentang manusia, pribadi, masyarakat, serta alam semesta.

Menurutnya, kebudayaan Jawa mempunyai prinsip-prinsip yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Salah satunya adalah prinsip kerukunan yang tidak hanya memuat tatanan kehidupan yang harmonis, namun lebih dari itu bahwa rukun diartikannya sebagai cara bertindak masyarakat Jawa untuk tidak mengganggu keselarasan hidup yang sudah ada, dan menghindari terjadinya konflik. Selain itu, adanya sikap saling hormat dan munculnya nilai-nilai keselarasan sosial.

Keterangan Romo Magniz berkaitan dengan etika Jawa tersebut sangat membantu pemahaman secara mendalam tentang budaya Jawa baik untuk masyarakat yang berasal dari Jawa maupun bukan, untuk memahami tingkah laku, kebijaksanaan, dan cita-cita orang Jawa.

Meski saat ini Indonesia kerap ditimpa persoalan kekerasan yang hampir menjadi budaya baru masyarakatnya, namun bagi Romo Magniz pernyataan tersebut tidak berlandaskan realitas dominan toh ternyata sampai detik ini bangsa ini masih tetap merasa damai secara menyeluruh. Ia juga menyampaikan bahwa hampir di seluruh negara di dunia ini bentuk kekerasan itu hampir selalu menghiasi dinamika perjalanan di suatu negara.

Romo Magnis tidak hanya terkagum oleh karakter masyarakat Jawa yang membuat dia betah tinggal di Indonesia, melainkan juga karena ketertarikannya terhadap perkembangan gereja Katolik dan situasi budaya politik kebangsaan di negeri ini. Ketertarikannya terhadap fenomena-fenomena tersebut mengantarkannya pada sebuah karya intelektualnya yang berjudul; Etika Kebangsaan Etika Kemanusiaan: 79 Tahun sesudah Sumpah Pemuda.

Pengalaman pertama terkait dengan pengamatannya terhadap fenomena politik kebangsaan di Indonesia diawali dengan maraknya kudeta gerakan partai komunis Indonesia (PKI). “Saya melihat ada tarik menarik di Indonesia antara kalangan nasionalis, islamis, dan komunis di masa awal-awal kemerdekaan dahulu.”

“Memang selama satu tahun pertama tinggal di Jawa saya tidak bisa mengikutinya (fenomena kebangsaan). Sebab, waktu itu saya hanya bisa bahasa Jawa, jadi belum bisa baca koran, yang saat itu juga telah dikuasai oleh pihak komunis. Tetapi kemudian saya tentu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi yang memuncak dalam Gerakan 30 September 1964 tersebut.

Romo Magnis menambahkan, dia takut sekali jika Indonesia akan benar-benar diambil alih oleh gerakan komunis saat itu. Gerakan yang dikomandani DN Aidit itu kelihatan begitu menguasai. “Saya mengalami gerakan itu di Jogja, namun ini adalah salah satu pengalaman saya yang sangat berharga di Indonesia.

Saat ini, dia juga begitu kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populis terhadap kesejahteraan rakyat. Lebih dari itu, Romo Magnis juga begitu keras terhadap sikap pemerintah yang cenderung mencari titik aman dan sembunyi dibalik pencitraan belaka.

Sikap kritisnya tidak hanya diluapkan dalam tulisan-tulisannya di berbagai media nasional, tetapi juga kerap dilontarkannya di setiap pertemuan lintas agama. “Saya melontarkan kritik ini bukan sebagai bentuk kebencian saya terhadap pemerintah, tapi karena kepedulian dan kecintaan saya sebagai warga negara Indonesia,” urainya dengan tegas. [ ]

Terkait

  • Sandra Dewi: Bingkai Prestasi Gadis Perantauan
  • R.A. Kosasih: Bapak Perintis Komik Indonesia
  • Ebiet G. Ade: Maestro Musik Pop Indonesia
  • Dewi Lestari: Penulis yang Bernyanyi
  • Luluk Sumiarso: Merawat Tradisi Nusantara

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>