Haghia Sophia Lubis: Melawan Mentalitas Terjajah

Restoran Talaga Sampireun di Bintaro Jaya Tangsel terlihat asri. Lampu temaran bertebaran di setiap sudut dengan hamparan kolam bundar. Panggung di atas kolam terisi penuh oleh pengunjung dengan suasana ria para penikmat wisata air. Sementa sisi restoran dikelilingi kolam memanjang lengkap dengan ikan koi warna-warna.

Dalam hening kekaguman tata letak restoran, redaksi rmbiografi.com dikejutkan oleh kedatangan seorang perempuan. Dialah Haghia Sophia Lubis, seorang pengacara yang hendak berbagi cerita tentang hidupnya. Terutama motifasi untuk mencalonkan diri sebagai Anggota DPR-RI 2014-2019.

Pembicaraan kami dimulai dengan kontestasi menjadi legislator menyisakan harapan bagi Haghia Sopia Lubis. Dengan duduk di Senayan, Sophia berharap bisa menata sistem pelayanan kepada masyarakat. Terutama dalam mengembalikan hak dasar kehidupan layak hingga bisa melahirkan kualitas hidup ke depan. Dalam masalah pendidikan yang telah banyak menyebabkan sebagian masyarakat hidup di bawah standar kehidupan layak. Terutama masalah kemandirian sebagai bangsa, agar tidak tergantung pada kepentingan asing.

Dengan memilih dapil 3 Sumut, alumni Harvard University ini mencoba peruntungan mengabdi pada bangsa dan negara. Risiko mengenalkan diri dengan bertanya kepada masyarakat tentang pentingnya kehadiran seorang wakil di senayan. Bahwa ada yang memperjuankan kelak, terutama hak dasar dari pengelolaan sumber daya alam yang selama ini jauh dari semangat konstitusi. Tapi, “emang DPR-RI itu apa ka?. Terus kaka mau nyalon bupati apa gubernur”, katanya menirukan pertanyaan masyarakat di dapilnya.

Haghia kaget mendengar tanggapan masyarakat itu. Belum mengerti sama sekali siapa dan tugas seorang anggota DPR-RI. Sungguh sebuah tanggapan di luar dugaan. Alih-alih mengkampanyekan dirinya, Haghia malah mengambil peran edukasi politik. Dia terus menyisir setiap sudut wilayah di dapilnya untuk menjelaskan tugas pokok anggota DPR-RI, sambil secara bertahap menjelaskan bahwa dirinya adalah salah satu calon yang ditatapkan oleh Partai NasDem dengan nomor urut tiga.

Dalam banyak pembicaraan dengan masyarakat, Haghai menyadari tidak banyak yang menyadari bahwa penjajahan di masa lalu telah mewariskan benih-benih mental yang cenderung merugikan. Bermacam sikap seperti merasa kerdil di hadapan pihak asing, mudah didikte dan gampang menjual martabat diri adalah salah satunya. Kini sikap tersebut makin mengembang, terutama di dunia korporasi, dalam bentuk yang lebih luas.

Itulah sekelumit fakta yang turut disayangkan pengacara cantik Haghia Spohia Lubis. Perempuan yang namanya melambung seiring perkara kasus Nazaruddin ini mengungkapkan, mentalitas terjajah kerap menguntungkan pihak asing. Bahkan aset yang seharusnya jadi hak milik pribadi atau daerah terpaksa pindah tangan dengan jumlah sangat besar.

“Banyak yang tidak mengerti bagaimana penjajahan melalui kejahatan korporasi, sistem perbankan, dan lain-lain. Melalui sistem transaksi yang mereka tawarkan, pada akhirnya seluruh aset jatuh ke pihak mereka,” katanya.

Termasuk mentalitas terjajah ialah ingin serba instan dan serba cepat. Kalkulasi jangka panjang tak terlalu diperhitungkan lantaran melihat keuntungan sesaat. Di benaknya, yang penting hanya untung meski sebenarnya sangat fatal.

“Misalnya, siapa yang mau dikasih pinjaman dengan bunga 300 persen? Bila suatu saat nanti tidak kuat bayar, sahamnya pasti diambil,” ujarnya.

Haghia memang banyak tahu dunia korporasi terutama yang melibatkan pihak asing. Pasalnya, setelah menggeluti hukum ekonomi di Universitas Indonesia, ia melanjutkan studi ke Harvard Law School dengan spesifikasi hukum keuangan internasional. Selain itu, Haghia juga sering ditugaskan ke luar negeri menangani kasus perusahaan yang sedang berperkara.

Bagi peraih The Asia Cup International Law Moot Court Competition, Tokyo, Japan tahun 2003 ini, kejahatan korporasi menjadi modus penjajahan baru. Bahkan karena modus itulah kekayaan sumber daya alam daerah banyak dijual ke asing.

Oleh karena itu, Caleg DPR RI dari Partai Nasdem ini bertekad untuk memerangi bentuk kejahatan tersebut. Meski selama ini dia telah ikut berjuang lewat lembaga yang digelutinya, namun Haghia merasa tidak cukup hanya berkoar-koar dari luar sistem.

“Saya pikir idealisme saja tidak cukup. Idealisme harus diperjuangkan dari dan melalui sistem,” kata Haghia melanjutkan.

Saat ini Haghia bekerja sebagai pengacara di O.C. Kaligis & Associates. Ia mulai masuk ke lembaga itu sejak tahun 2005. Adalah berkat kepintaran dan kecerdikannya ia kemudian dipercaya menangani berbagai kasus besar, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tentu saja semua capaian itu tidak serta-merta didapatkan dengan mudah. Layaknya pengacara lain yang memulai karir dari bawah, Haghia pernah terlibat dalam pelbagai kasus pro-bono bagi pihak yang kurang mampu. Ia juga mengikuti sejumlah organisasi yang berkaitan dengan bidang hukum. Jabatan senat mahasiswa, peneliti, dan konsultan di lembaga kajian hukum pernah ia geluti. (Muhtar Sadili)

Random Posts

    One Response to Haghia Sophia Lubis: Melawan Mentalitas Terjajah

    1. Nusa

      Insya Allah, dengan niat tulus ikhlas, pengabdian, tanggung jawab dan kredibilitas seorang Hagia Sophia Lubis, dapat membawa perubahan besar ke arah yg lebih baik bagi masyarakat Sumatera Utara dan juga rakyat Indonesia.

    Leave a Response

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>