Sandra Dewi: Bingkai Prestasi Gadis Perantauan

“Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi…”

Sepenggal lirik lagu milik Koes Ploes di atas, menyimpan makna bahwa Jakarta merupakan kota yang menjadi tumpuan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat dari berbagai penjuru daerah, berbondong-bondong hijrah ke tanah Batavia, berupaya untuk memperbaiki kesejahteraan hidup. Sebagai ibu kota negara, Jakarta seperti menjual mimpi akan kenikmatan hidup di negeri ini.

Seperti halnya yang dilakukan Sandra Dewi, demi meneruskan pendidikannya, wanita berwajah oriental ini hijrah ke Jakarta pada tahun 2001 dan mengambil kuliah di London School of Public Relation. Ketika menginjakkan kaki pertama kali ke Jakarta, dia merasakan Jakarta sebagai kota metropolitan yang semuanya ada disini.

“Aku datang ke Jakarta tahun 2001, keluarga baru datang tahun 2002. Aku merasakan kota Jakarta ya sebagai kota metropolitan, semuanya ada disini, kemiskinan, kekayaan, dan juga kejahatan. Awalnya memang saya agak kurang nyaman disini, terkesan kejam hidup di Jakarta, tapi sekarang saya sudah mulai bisa menaklukan Jakarta,” ujar Sandra Dewi ketika diwawancarai Majalah Rakyat Merdeka.

Namun setahun kemudian, wanita yang bernama lengkap Monica Nicholle Sandra Dewi Gunawan Basri ini mengawali kariernya melalui pemilihan Miss Enchanteur 2002 dan Duta Pariwisata Jakarta Barat. Namun Sandra kemudian memilih fokus melanjutkan kuliahnya.

“Saat aku terpilih jadi Duta Jakarta Barat, aku belum terjun ke entertaintment, tahun 2006 baru aku terjun ke entertaintment,” ujar Sandra saat diwawancarai Majalah Rakyat Merdeka.

Sulung tiga bersaudara pasangan Andreas Gunawan Basri dan Catharina Erliani ini mulai terjun ke dunia hiburan saat mengikuti Fun Fearless Female Majalah Cosmopolitan 2006. Dalam ajang tersebut, Sandra meraih juara dua. Kemenangan itu menjadi batu loncatan bagi Sandra, setelah salah satu juri ajang tersebut, Nia Dinata menawarinya untuk casting.

Sandra lolos casting untuk peran Lila, seorang dokter dalam film Quickie Express (2007). Setelah meneguk dunia layar lebar, Sandra melebarkan sayap berakting lewat sinetron kejar tayang Cinta Indah. Lewat film Quickie Express, Sandra terpilih sebagai bintang Pendatang Baru Terfavorit versi Indonesian Movie Award (IMA) tahun 2008.

Dewi fortuna mengelilingi wanita kelahiran 27 tahun lalu ini di tahun 2008, selain terpilih sebagai Pendatang Baru Terfavorit IMA, wanita berdarah Palembang, Tionghoa, Sunda, dan Belanda ini mendapat beberapa penghargaan lain. Seperti penghargaan sebagai ikon Film Nasional versi polling Majalah HAI, Indonesia sweetheart versi tabloid Bintang, dan penghargaan lainnya. Pada tahun 2008 pula, Sandra Dewi dinobatkan sebagai Duta Anti Narkoba.

Sandra pun mulai merambah ke dunia tarik suara di tahun 2008. Bersama Dewi Sandra dan Luna Maya, Sandra mengeluarkan single Play dalam rangka menyambut Euro 2008. Sandra juga kembali berakting pada film layar lebar berjudul Tarzan Ke Kota, di film ini Sandra juga menyumbangkan suaranya untuk soundtrack film.

Kiprahnya di dunia film membuat Sandra menjadi duta Gelaran Festival Sinema Prancis yang digelara di 15 kota di Indonesia. Sandra mampu dengan fasih menjelaskan bahwa film dapat menjembatani multikulturalisme antar negara.

Awal 2009, Sandra menjajaki bidang lain yakni sebagai presenter acara musik di salah satu televisi swasta. Di pertengahan tahun yang sama, Sandra terpilih menjadi Duta Lepra. Sebagai Duta Lepra, Sandra bertugas melakukan kunjungan pada penderitanya.

Dari sekian banyak bidang dan prestasi yang dilakoninya, Sandra mengaku itu merupakan impiannya sejak kecil. Dirinya memang berkeinginan untuk menjadi seseorang yang bergelut di dunia entertaintment. Namun begitu, Sandra bercita-cita untuk memimpin sebuah perusahaan.

“Dari kecil aku memang mimpi menjadi pemain film, bintang sinetron, atau bintang iklan. Semua yang aku capai sekarang memang mimpiku sejak kecil, tapi aku juga sering bermimpi menjadi seorang bos wanita yang hebat dalam memimpin perusahaan,” ujarnya.

Keluarga seperti Pelindung

Dibalik kesuksesannya selama ini, keluarga memiliki peran sangat penting bagi Sandra Dewi. Kakak dari Kartika Dewi dan Raymond Gunawan ini mengaku keluarga merupakan tumpuan dalam hidupnya.

“Keluarga itu sangat penting buat aku, mereka adalah orang yang akan menerima aku dalam keadaan apapun, dan selalu ada di saat suka maupun duka. Aku bisa jadi diri sendiri bersama mereka. Mereka seperti jantung hati, dan aku sangat menyayangi mereka,” ujar Sandra.

Kebahagiaan kumpul bersama keluarga juga dirasakan Sandra setiap merayakan Tahun Baru Imlek. Wanita yang setuju terhadap pluralisme ini juga masih mendapat angpao dari rekan keluarga.

“Pagi-pagi aku sudah mandi, berdandan dan mengucapkan gong xi fa cai kepada orang tua. Kemudian kita pergi ke rumah nenek dan berkumpul bersama semua keluarga. Makan terus menerus sampai malem. Acara kumpul ini sampe berhari-hari, dan aku masih dapat angpao,” ujarnya.

Tak seperti perayaan Imlek, hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 bulan ini, tidak menarik perhatian Sandra. Baginya, valentine dirayakannya setiap hari karena ada bersama keluarga dan orang-orang yang dikasihinya.

“Aku tidak merayakan valentine, tiap hari seperti valentine buatku. Karena tiap hari aku berbagi cinta kepada keluarga, teman dan orang terdekat. Dan di hari valentine pun aku selalu bekerja,” ujar Sandra.

Di tengah kebahagiaanya bersama keluarga, wanita berambut panjang ini mengaku ingin cepat berkeluarga. Sandra juga pernah melakukan semacam audisi untuk memilih laki-laki pilihannya.

Terkait

  • Franz Magnis Suseno: Kagum Budaya Jawa
  • R.A. Kosasih: Bapak Perintis Komik Indonesia
  • Ebiet G. Ade: Maestro Musik Pop Indonesia
  • Dewi Lestari: Penulis yang Bernyanyi
  • Luluk Sumiarso: Merawat Tradisi Nusantara

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>