KELIEK ‘DOYOK’ SISWOYO: Selamat Jalan Sang Maestro Kartun Indonesia

Dipublis pada 25 October 2012 oleh   ·   No Comments

Seorang lelaki berwajah culun dengan dua pasang giginya yang selalu menyembul bak kelinci berjalan menyusuri jalan perkampungan penduduk yang padat. Pria tersebut mengenakan pakaian yang khas; baju surjan lurik, blangkon dan celana markentol yang bagi kebanyakan orang enggan untuk memakainya. Dari hari ke hari pakaian itu tak pernah diganti. Entah alasan apa ia tak mau mengganti pakaiannya? Apa ia memang malas mencuci atau memang ia memiliki banyak stok baju yang sama?

Jangankan pakaian. Pekerjaannya pun tak jelas. Sehari-harinya ia selalu luntang-lantung sambil berbicara sendiri, terkadang ia juga ditemani oleh dua bocah yang juga bertampang culun. Yang dibicarakannya seputar politik dan kehidupan sosial masyarakat kelas bawah.

Tapi jangan salah! Biarpun bertampang culun dan status sosialnya tidak jelas, hampir semua masyarakat kota Jakarta sangat mengenalnya. Mulai dari masyarakat kelas bawah sampai masyarakat kelas atas. Dari sopir angkot, tukang ojek, pedagang sayur, pedagang asongan tukang parkir, satpam sampai pejabat tinggi.

Sosok pria culun yang dibicarakan di atas adalah Doyok. Dan masyarakat yang mengenal sosok pria culun itu tak lain dan tak bukan adalah pembacanya. Karena sosok Doyok muncul setiap hari di rubrik Lembergar (lembaran bergambar) untuk menemui pembacanya. Rubrik lembergar itu sendiri adalah bagian dari harian Pos Kota.

Keliek Siswoyo Sang Kreator

Menggambar itu mudah. Namun membuat karakter tokoh, itu yang menurut saya cukup sulit. Terlebih menciptakan karakter yang ke-Indonesian. Dan Keliek berhasil melakukannya.

Sebelum bergabung dengan Harian Pos Kota, Keliek Siswoyo sering mengirimkan gambar kebeberapa harian dan majalah dalam bentuk kartun dan komik. Salah satu gambar yang dikirimkan Keliek ke Harian Pos Kota Minggu mendapat respon yang positif. Almarhum Leo Purwono selaku pengasuh sekaligus illustrator Pos Kota Minggu lantas memanggil Keliek untuk bergabung.

“Waktu itu Bapak diminta untuk membuat karakter yang ke-Indonesiaan,” jelas Arus Danuratri anak kedua Keliek Siswoyo.

Nama tokoh Doyok didapatkan Keliek Siswoyo karena dirinya selalu dipanggil, ”Yok!”. Doyok muncul pertama kali tahun 1978. Sosok Doyok merupakan representasi dari kaum pendatang yang coba mengadu nasib di kota Jakarta. Kesan primodialnya jelas tergambarkan lewat pakaian yang dikenakannya. Asal usulnya pun (sepertinya) coba ditegaskan melalui blangkon yang memiliki mondolan di belakang. Sepertinya Doyok memang (sengaja) di-setting untuk mewakilkan kaum kelas bawah.

Kehadiran Doyok di lembaran bergambar Pos Kota memiliki warna tersendiri. Penampilan Doyok berbeda dari tokoh kartun lainnya yang ada di lembergar. Doyok tidak berpenampilan modis, ia sederhana dan percaya diri untuk tetap memakai kostum ketoprakan.

Mendapat sambutan yang sangat positif dari pembacanya, akhirnya Pos Kota memutuskan untuk menerbitkan lembaran bergambar setiap hari.

Komik kartun Doyok tersusun dari empat sampai lima panel. Dari susunan panel-panel tersebut memiliki perannya masing-masing. Pada panel pertama muncul dialog singkat yang menggambarkan sebuah topik atau isu yang akan dibicarakan. Panel kedua dan ketiga adalah penjabaran dari panel satu. Panel keempat sebagai pengumpan (untuk panel ini terkadang saya melihat adanya kemunculan lawan dialog Doyok yang secara tiba-tiba, yang tidak selalu diikutkan di panel awal, dua, dan tiga). Sedang panel terakhir adalah “gong”nya atau komentar final yang akan menimbulkan reaksi perubahan gerak tubuh (gesture) serta ekspresi mimik lawan maupun Doyok itu sendiri. Selain Doyok, ada dua nama yang juga menjadi ikon dan terkenal di masyarakat, yaitu Burik dan Gepeng. Keduanya sering kali muncul menemani Doyok.

Kehadiran komik kartun Doyok juga tidak terkesan slapstick belaka, komentarnya terkadang sarkastis dan sinis. Namun demikian, ia juga memiliki muatan pesan moral yang mengena dengan kekitaan.

Keliek Siswoyo Si Cuek Bebek

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, Mas Keliek sudah mulai tak terlihat di ruangan lembaran bergambar (lembergar) di lantai 5 gedung Pos Kota. Kabar yang saya dengar dari teman-teman, ketidak hadiran mas Keliek lantaran beliau sedang tidak enak badan. Namun ia masih tetap membuat Doyok untuk edisi cetak dan online juga membuat illustrasi Ketoprak Politik dan Wayang Abal-Abal untuk tabloid Oposisi yang ia kirimkan lewat email.

Dimata teman-teman lembergar, sosok Keliek Siswoyo adalah orang yang sederhana, ramah, suka bercanda dan cuek bebek. Ia juga termasuk orang yang tidak pernah mau ikut campur dengan urusan orang lain. Namun begitu ia juga tak segan untuk memberikan kritikan serta motivasi kepada juniornya.

Kecuekannya dapat terkonfirmasi dengan mas Keliek yang lebih sering tak mengenakan baju, bertelanjang dada jika di kantor. Alasannya simple saja:gerah. Di samping itu beliau juga merasa lebih nyaman memakai sandal, ketimbang sepatu ketika ke kantor. Sifat easy going dari Keliek Siswoyo terdapati pada dirinya yang senang mendengarkan musik lewat ear phone sambil sesekali bersiul dan bernyanyi mengikuti lagu yang sedang ia dengarkan, yang kemudian diikuti oleh yang lainnya. Suasana kantor pun menjadi semarak dan hidup seperti sedang ada latihan paduan suara.

Di mata saya, Keliek Siswoyo adalah sosok seniman yang sangat bersahaja, pekerja keras dan konsisten dalam berkarya. Ia juga sosok yang cerdas dalam menangkap persoalan-persoalan yang terjadi di negeri ini yang kemudian ia aplikasikan dalam bentuk komik kartun dengan muatan kritik yang cerdas tanpa harus melecehkan.

Rasa empati terhadap teman juga dimiliki Keliek. Kami pernah ditraktir beliau makan. Saat itu kebetulan uang jatah makan belum keluar.

Selamat Jalan Maestro Kartun

Lahir di Wonokromo, Yogyakarta, Jawa Tengah, 4 Maret 1955 dari keluarga sederhana. Setamat SMA ia memutuskan hijrah ke Jakarta. Ia tinggal di rumah kakaknya di daerah Tanjung Priok dan di rumah ibunya di daerah Kelender. Ia juga sempat merasakan bekerja sebagai kenek dan sopir oplet.

Tahun 1977 ia bertemu dengan seorang gadis bernama Dewi Tindarti yang kemudian dipersuntingnya di tahun 1983 dan dikaruniai empat anak; Megamurti (27), Arum Danuratri (23), Danang Sutowijoyo (22), Bayu Baskoro (16).

Ia juga mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah Haji pada tahun 1994 yang dibiayai sepenuhnya oleh Harian Pos Kota.

Menginjak tahun 2011 Mas Keliek telah memasuki masa pensiun, menutup masa pengabdiannya yang panjang di harian Pos Kota selama kurang lebih 35 tahun. Bagi saya itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Bisa konsisten dalam durasi lebih dari tiga dekade berkarya dalam satu media. Pensiun secara adminstratif tidak membuat Keliek Siswoyo berhenti menggambar. Magnum opus-nya berupa komik Doyok harus tetap ada untuk mengisi lembergar di Pos Kota. Masa pensiun pria perokok berat ini diperpanjang hingga 2013 dan sekaligus sebagai kartunis di tabloid Oposisi.

Sebuah kebanggan bagi saya bisa mengenal dan bekerja bareng dengan seorang kartunis besar yang karyanya sangat fenomenal dan memiliki makna mendalam. Doyok adalah salah satu komik strip yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang kartunis. Bukankah begitu hakikat dari karya yang inspiratif? Tiada berhenti setelah dikonsumsi, melainkan mampu menggerakkan dan menggugah semangat bergerak.

Beberapa hari memasuki awal puasa saya tidak melihat kehadirannya lagi di kantor. Pernah saya bersama mas Rosyid (kartunis senior) berniat mengajaknya nongkrong di warung kopi dekat kantor Pos Kota. Beberapa kali saya kontak hp-nya tak diangkat. Selang beberapa menit mas Keliek mengontak saya, memberitahukan kalau hari ini ia tidak ke kantor karena kurang enak badan. Itulah untuk yang terakhirnya saya berbicara dengan mas Keliek. Karena esok paginya saya mendapat sms yang mengabarkan berita duka kalau mas Keliek telah meninggal dunia di rumah sakit Sari Asih, Cileduk, Tangerang, Banten, pukul 04.15 WIB.

Karya mengalahkan nama, itulah gambaran dari sosok H. Keliek Siswoyo. Kartunis yang telah berpulang ke pangkuan Sang Khaliq di usia 57 tahun meyusul empat rekannya di lembergar; Leo Purwono (Illustrator/Kartunis), Yudhi (Wahyudi) Rehatta pengarang Tedy Tadarus, Sabaryadi (mas Bar), Suparno (Supar). Lewat kecerdasan serta tangan dinginnya, ia melahirkan tokoh Doyok yang sangat fenomenal hingga dikenal oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat kota Jakarta, dan pada akhirnya menjadi ikon di harian Pos Kota.

Selamat jalan Sang Maestro Kartun Indonesia. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahannya dan menerima segala amal-ibadahnya. Amien ya robbal alamien. (apat)

Random Posts

    Tags:

    Komentar Pembaca (0)