Hukum Kesuksesan “Sang Petani”

Catatan Budi Rahman Hakim

Kelompok fatalis atau jabariyah mengimani bahwa nasib seseorang atau sekelompok orang sudah tertulis sejak lama, persisnya sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Semua yang terjadi dalam kehidupan ini semata dan 100 persen merupakan kehendak yang maha kuasa: Tuhan semesta alam. Semua sudah digariskan dan telah menjadi suratan takdir yang harus diterima apa adanya.

Orang kaya atau orang miskin, sukses atau gagal dan segala polarisasi kehidupan lainnya; sudah merupakan skenario Tuhan sebagai penulis cerita sekaligus Sang Sutradara. Dalam doktrin kaum jabariyah, para pemain tidak boleh dan tidak bisa melanggar pakem cerita apalagi melakukan perubahan. Nyaris tidak ada ruang improvisasi atau sekadar mengusulkan ide cerita. Semua perjalan hidup sudah given: sudah dari sononya, man!

Sebagian ahli sejarah menuding jalan pikiran dan keimanan kaum inilah yang menyebabkan terbelakangannya peradaban yang tersangka penghambat kemajuan. Zaman kegelapan setiap kaum selalu ditandai dengan dominasi mindset dan habit kaum dogmatik dalam mengekspresikan kepercayannya kepada Tuhan-nya. Di bagian dunia lain muncul kekuatan yang memahami dunia dengan cara berbeda dan lebih mencerahkan.

Gerakan ini mengimani Tuhan dan jagat raya dengan caranya sendiri yang lebih membebaskan. Dalam tradisi Islam kelompok ini disebut jamaah kodariyah, yang gerakannya diradikalisasi dan disistematisasi oleh kelompok muktazilah. Yakni, gerakan yang melihat bahwa Tuhan menganugrahi manusia fakultas nalar dan rasa untuk memilh jalan kehidupan mereka di dunia. Manusia memiliki otoritas memilih (free will) ikhtiar maksimal untuk mencapai kehidupan yang mereka inginkan. Mereka terikat sunnatullah atau natural of law dalam memilih nasibnya atau takdirnya di dunia ini.

Salah satu dari sekian banyak hukum kehidupan yang mengkonfirmasi secara empiris kebenaran “cara pandang dunia” seperti ini ialah hukum kesuksesan juga kegagalan sang petani. Tampak dari runtutan hukum petani ini peran kuat manusia dalam mendeterminasi nasib, jalan takdir dan masa depan kehidupan mereka di muka bumi ini. Hukum petani ini mengikat pada perorangan maupun komunitas besar: sebuah bangsa di Negara mana saja.

Hukum 1

Bila Anda menanam benih durian, Anda akan mendapat buah durian. Hukum ini mengafirmasi bahwa “kita akan mendapat apa yang kita tanam.” Hukum pertama sang petani ini sekaligus mengajarkan beberapa hal. Pertama, sebelum menanam apa pun, kita harus MEMUTUSKAN apa hasil yang ingin dicapai.

Kedua, kalau salah tahu maunya menanam apa maka kita harus mencari bibitnya. Tentu kita harus bermodal untuk membeli apalagi benih yang berkualitas baik. Terakhir, setelah membeli benih, tentu benihnya harus ditanam biar tumbuh. Beli benih hanya untuk dipajang, tentu tidak akan jadi apa-apa sekali lagi harus ditanam!

Hukum 2

Setelah benih ditanam, Anda harus merawatnya. Hukum ini meniscayakan adanya proses yang harus dilalui. Selama merawat, kita harus melambungkan harapan dan menguatkan keyakinan terhadap tubuh kembangnya benih. Terlebih, merawatnya dengan cara mengusir tanaman liar dan pengganggu. Kita dan sang petani biasanya selalu waspada terhadap serangan hama. Semua proses perawatan itu dilakukan secara teratur dan penuh kedisiplinan.

Hukum 3

Hukum 3 adalah yang selalu mengikat ialah: prosesnya tidak bisa instan. Perlu waktu dan karena itu harus senantiasa sabar menunggu. Petani yang sukses ialah mereka yang terbukti kesabarannya menjalani setiap fase bercocok tanam. Sabar telah menjadi syarat utama bagi siapa saja yang memutuskan menjadi petani (yang sukses). Terlalu banyak petani yang sukses maka wajar bila mereka dinominasi paling kuat sebagai simbol manusia sabar.

Hukum 4

Hukum petani yang satu ini mengikat fakta: ada cara yang BENAR dan cara yang SALAH dalam melakukan proses bertani. Kedua-duanya berimplikasi pada hasil yang berbeda, tentu. Untuk mengetahui cara yang benar, petani dan kita harus melakukan investasi waktu dan anggaran untuk belajar tentang bagaimana menanam yang benar. You pay you learn.

Hukum 5

Setelah semua proses dilewati maka tiba waktunya panen. Tapi rupanya tidak selalu seperti itu ending-nya. Bisa jadi setelah semua dilakukan dengan kerja keras, cara menanamnya benar, pupuk penyuburnya berkualitas, lalu dengan mudah dapat memetik hasil, buah yang diharapkan. Panen gagal karena diterjang cuaca buruk: kemarau panjang atau banjir bandang yang merusak tanah.

Hukum 6

Hukum terakhir bila benih buah yang kita tanam gagal kita panen maka hukum berlaku di kalangan petani ialah: kurangi kerugian! Petani pasti akan melakukan pilihan ini dengan sabar: menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, kegagalan memetik buah tidak dibuang seluruhnya. Masih ada yang bisa dimanfaatkan untuk sekadar memenuhi konsumsi atau bahkan agar balik modal saja.

Dari kesemua hukum-hukum ini sejatinya kita bisa menganalogikannya dengan kenyataan sehari-hari. Karena ke depan akan banyak orang yang percaya dan melaksanakan hukum universal sang petani dalam menjalani kehidupan. Tidak sedikit di antara pengalamannya dapat memotivasi kita untuk meraih kebahagiaan di dunia dan mungkin di akhirat, kelak.

Terkait

  • Melihat Masa Depan
  • Para Pengubah Takdir
  • Kisah Orang-Orang Kecil dan Pinggiran
  • Naskah-Naskah Keteladanan

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>