Puasa dan Spiritualitas Ekologis

http://www.hiren.info/Pelaksanaan Puasa di musim panas seperti sekarang ini mungkin terasa berat dan melelahkan. Bagaimana tidak, di saat udara panas menyengat, kita diharuskan menahan lapar dan dahaga. Sungguh, bagi siapa pun yang berpuasa, niscaya ia akan senantiasa berdo’a, sebagaimana doa nabi Daud a.s. agar cintanya kepada Allah tidak melebihi cintanya kepada air dingin.

Di kawasan Timur Tengah dan Afrika sana, dari mulai Maroko hingga Afganistan, pelaksanaan puasa bahkan lebih melelahkan lagi. Kenapa? karena saat musim panas datang, siang hari berlangsung lebih lama. Dimana umat Islam di kawasan ini berpuasa lebih lama dibanding dengan umat Islam di kawasan lainnya, mereka harus menahan haus dan lapar hingga 14 jam lamanya. Pelaksanaan puasa mereka tentu saja akan lebih melelahkan, karena selain harus menahan lapar dan haus, umat Islam yang berada di negara-negara konflik seperti Suriah, Palestina, Irak dan Pakistan juga harus menghadapi kemungkinan kontak bersenjata.

Tapi beruntunglah wahai para sha’imin, karena ternyata, ibadah yang dilipatgandakan pahalanya di musim panas adalah puasa. Oleh karena itulah Muadz bin Jabal merasa sayang karena berlalunya kehausan yang sangat di musim panas. Umar bin Khattab bahkan pernah berpesan di akhir hayatnya kepada putranya Abdullah, beliau berkata: ”Kamu harus menjaga perkara-perkara iman….” dan ia menyebutkan kalau yang pertama adalah puasa di musim panas.

Para sha’imin yang diampuni Allah, musim panas tidak saja mengingatkan kita akan panasnya api neraka, tapi juga mengisyaratkan kepada kita bahwa bukan hanya manusia yang berpuasa, tapi alam pun berpuasa.

Di musim penghujan, saat tanah menjadi gembur dan persedian air begitu mencukupi, bumi yang kita pijaki ini tak henti-hentinya melakukan proses mikroorganisme, demi menunjang kelangsungan hidup makhluk lainnya, terutama manusia. Tapi di musim panas, tanah memiliki kesempatan untuk beristirahat dan puasa sejenak.

Subhanallah, puasa di musim panas ternyata juga hendak mengingatkan kita, kalau alam pun ternyata memerlukan saat-saat bisa beristirahat dari hasrat manusia yang tak pernah berhenti mengeksploitasi alam.

Air berharap puasa dari limbah industri yang dibuat oleh tangan-tangan jahil manusia. Udara menghendaki sejenak terbebas dari asap roko dan pembakaran bahan bakar fosil lainnya. Sementara hutan juga berharap, mereka bisa berpuasa dari era pembalakan liar.

Yang lebih penting lagi, puasa di musim panas hendak mengingatkan kepada kita bahwa Allah pada dasarnya tengah memberikan rekomendasi kepada manusia dan seluruh makhluknya untuk segera melakukan gerakan religiusitas kosmik atau spiritualitas ekologis, dengan meninggalkan konsumerisme dan beralih kepada entropi kesederhanaan hidup, serta keseimbangan alam.

Karena kalau tidak, maka seperti firman Allah Swt.: “Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi beserta isinya”(al-Mukminun[23]: 71)

Oleh karena itulah, musibah banjir, cuaca ekstrem, kecelakaan lalu lintas atau bahkan kemacetan yang nyata di sekitar kita sejatinya mengingatkan siapa pun bahwa menurutkan hawa nafsu hanya akan membuat kita binasa. Sebaliknya, kemampuan kita untuk menahan hawa nafsu akan membuat kita bahagia. Sebagaimana Firman Allah dalam surah al-Qadr ayat 5, “Salamun hiya hatta math lail fajr.” Wallahu a’lamu bishawab.

Terkait

  • Kembali Memetik Detik di Perjamuan Ramadhan-Mu
  • Panglima Segala Amal dan Kebajikan

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>