Ebiet G. Ade: Maestro Musik Pop Indonesia

“Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu, entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung. Hanya atas kasihnya, hanya atas kehendaknya, kita masih bertemu matahari, kepada rumpun ilalang, kepada bintang gemintang.” Nukilan ini dicomot dari tembang lagu yang berjudul Masih Ada Waktu yang dilantunkan Ebiet G Ade. Lagu itu yang menyasar kepada permenungan betapa Tuhan masih mau memberikan kita kesempatan melihat buana yang indah ini.

Selain kerap kali menjadi pengiring berita-berita seputar bencana, alunan nada dan lirik-lirik lagunya, mampu menggerakkan orang untuk membantu, bersimpati atau setidaknya ikut mendoakan mereka yang terkena bencana. “Kan itu bagus. Jadi, mudah-mudahan itu ibadah juga,” ujar Ebiet.

Semangatnya tak pernah pudar dalam menciptakan lagu-lagu menyentuh hati dan mengharukan. Meski identik dengan bencana dan cerita tentang kaum tersisih, lagunya tetap menyejarah dan seakan selalu sesuai dengan apa yang dialami oleh bangsa kita.

Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far di Wonodadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954. Ebiet merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, anak dari pasangan Aboe Dja’far, seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain.

Pada tanggal 4 Februari 1982 Ebiet menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto (atau lebih dikenal sebagai Yayuk Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto). Pasangan ini dikaruniai empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan: Abietyasakti “Abie” Ksatria Kinasih (lahir 8 Desember 1982), Aderaprabu “Dera” Lantip Trengginas (lahir 6 Januari 1986), Byatriasa “Yayas” Pakarti Linuwih (lahir 6 April 1987), dan Segara “Dega” Banyu Bening (lahir 11 Desember 1989).

Keluarga Ebiet G. Ade tinggal di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Anak sulung Ebiet, Abie juga memiliki bakat musik, dan sering mewakili Ebiet dalam mengecek sound system menjelang ayahnya manggung. Selain bermain musik, Ebiet juga terkadang bermain golf, namun sejak terjadinya bencana tsunami 2004, hobi main golfnya tersebut pun hanyut entah kemana.

Ebiet G. Ade adalah seorang penyanyi dan penulis lagu. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, country dan jazz pada awal kariernya, dia ‘memotret’ suasana kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dan lain-lain.

Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Dulu dia memendam banyak cita-cita, seperti insinyur, dokter, pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi kendati dia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan.

Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya dia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah I. Di sana dia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, dia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya. Dia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya, lama-lama dia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far.

Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana.

Meski bisa membuat puisi, dia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan, seperti yang banyak dilakukannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya.

Walaupun begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang ikut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-puisinya.

Kepak Sayap Sang Maestro

Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan Kusbini. Semula dia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di Senisono, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan juga di Jawa Tengah, memusikalisasikan puisi-puisi karya Emily Dickinson, Nobody, dan mendapat tanggapan positif dari pemirsanya.

Walau begitu dia masih menganggap kegiataannya ini sebagai hobi belaka. Namun atas dorongan para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub yang didirikan oleh Umbu Landu Paranggi) dan juga temannya satu kos, akhirnya Ebiet bersedia juga maju ke dunia belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai perusahaan rekam, akhirnya dia diterima di Jackson Record pada 1979.

Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari pondok keraton, maka fakta telah menunjuk jalan lurus baginya ke Jakarta. Dia melalui rekaman demi rekaman dengan sukses. Sempat juga dia melakukan rekaman di Filipina untuk mencapai hasil yang lebih baik, yakni album Camellia III. Tetapi, dia menolak merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang, ketika dia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana. Pernah juga dia melakukan rekaman di Capitol Records, Amerika Serikat, untuk album ke-8-nya Zaman. Dia menyertakan Addie M.S. dan Dodo Zakaria sebagai rekan yang membantu musiknya.

Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasanah musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, perusahaan rekam yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Dia sempat mendirikan perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah.

Pada 1990, Ebiet yang “gelisah” dengan Indonesia, akhirnya memilih “bertapa” dari hingar bingar industri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru pada tahun 1995, dia mengeluarkan album Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh Ian Antono, Billy J. Budiardjo (alm), Purwacaraka, dan Erwin Gutawa) dan Cinta Sebening Embun (didukung oleh Adi Adrian dari KLa Project). Pada tahun 1996, dia mengeluarkan album Aku Ingin Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya, dia mengeluarkan album Gamelan yang memuat lima lagu lama yang diaransemen ulang dengan musik gamelan oleh Rizal Mantovani. Pada 2000, Ebiet mengeluarkan album Balada Sinetron Cinta dan tahun 2001, dia mengeluarkan album Bahasa Langit, yang didukung oleh Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi selama 5 tahun ke depan.

Ebiet adalah salah satu penyanyi yang mendukung album Kita Untuk Mereka, sebuah album yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinya tsunami 2004, bersama dengan 57 musisi lainnya. Dia memang seorang penyanyi spesialis tragedi, terbukti lagu-lagunya sering menjadi tema bencana.

Pada tahun 2007, dia mengeluarkan album baru berjudul In Love: 25th Anniversary (didukung oleh Anto Hoed), setelah 5 tahun absen rekaman. Album itu sendiri adalah peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih dalam aransemen lama.

Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam acara Zona 80 di Metro TV cukup menjadi obat bagi para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di antaranya Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade 80-an.

Di usianya tak muda lagi Ebiet masih tetap berkarya, meski waktunya lebih banyak dihabiskan untuk ‘bertapa’, menyepi dari hiruk-pikuk kehidupan ibukota, namun tawaran untuk tampil dalam sebuah acara pun seperti enggan berhenti. Ketulusan dan kejujuran dalam mencipta dan membawakan lagu sepertinya membuat Ebiet kerap kali dinanti dan dielu-elukan oleh para penggemarnya yang bisa dikatakan dari semua kalangan. Ya, ketulusan dan kejujuran memang barang langka yang kerap dengan mudah kita lantunkan namun amat sulit kita praktikan. Bersyukurlah, Ada seorang Ebiet yang mampu menuangkannya dalam mangkuk realitas sosial kita.

Terkait

  • Franz Magnis Suseno: Kagum Budaya Jawa
  • Sandra Dewi: Bingkai Prestasi Gadis Perantauan
  • R.A. Kosasih: Bapak Perintis Komik Indonesia
  • Dewi Lestari: Penulis yang Bernyanyi
  • Luluk Sumiarso: Merawat Tradisi Nusantara

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>