Susi Pudjiastuti; Menteri Tamatan SMP Pencuri Perhatian

“Tanpa kedaulatan, tanpa kita membuktikan bahwa kita kuat di laut, ya, kita akan terus-terus disepelekan oleh orang-orang yang bermaksud jahat dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari laut kita.” – Susi Pudjiastuti

 

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti

Majalah RM – Namanya semakin mentereng sejak masuk dalam jajaran Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Sebelumnya, pengusaha sukses yang memulai kerajaan bisnisnya lewat jual-beli lobster ini, hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja. Sejak 26 Oktober 2014, saat namanya disebut menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Susi Pudjiastuti sontak menjadi terkenal. Apalagi setelah kontroversi ikut mewarnai berita tentang menteri baru yang kedapatan menghisap rokok dan memiliki tato di tubuhnya ini mencuat.

Nama Menteri Susi tak hanya mentereng di dalam negeri. Di luar negeri pun namanya melambung tinggi. Terbukti, akhir Mei lalu, sejumlah delegasi dari beberapa negara anggota Asia Productivy Association (APO) rela berkunjung ke kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jalan Merdeka Timur, Jakarta, untuk bertemu sang menteri. Walau pun sayang, karena ada kegiatan di luar kantor, perwakilan 13 negara anggota APO itu gagal bertemu langsung dengan Susi.

APO adalah organisasi antarpemerintahan regional Asia-Pasifik yang bertujuan meningkatkan produktivitas di negara-negara anggota melalui kerjasama yang saling menguntungkan. Secara terang-terangan, Direktur Departemen Industri APO JM Thilaka Jayasundara, mengaku kagum dengan Susi. “Saya kagum akan kepemimpinannya, kebijakannya, sehingga industri perikanan Indonesia jadi maju,” katanya kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia KKP, Suseno Sukoyono, yang bertugas menyambut delegasi yang berasal dari Tiongkok, India, Jepang, Nepal, Mongolia, dan lainnya itu termasuk narasumber dari Kanada.

Susi Pudjiastuti lahir di Pangandaran, Jawa Barat, 15 Januari 1965. Ayahnya bernama Haji Ahmad Karlan dan ibunya bernama Hajjah Suwuh Lasminah. Kedua orangtuanya ini memang terkenal sebagai pedagang. Mungkin dari merekalah Susi mewarisi bagat berbisnis.

Susi mulai berbisnis sejak usianya masih 18 tahun. Dengan modal awal sebesar Rp750.000 ia memulai karirnya sebgai pengepul ikan. Keterlibatannya dalam dunia bisnis sejak usia dini ini bukan tanpa sebab. Karena dianggap terlibat dalam gerakan “golongan putih” (Golput), yang dilarang pemerintahan Orde Baru saat itu, Susi dikeluarkan dari sekolahnya. Saat itu Susi duduk di kelas 2 SMA Negeri 1 Yogyakarta. Berkat kejadian pahit inilah Susi lantas enggan melanjutkan studinya dan lebih memilih menggeluti dunia bisnis.

Setelah 13 tahun menjadi pengepul ikan, pada 1996 Susi berhasil mendirikan sebuah pabrik pengolahan ikan. Pabrik ini diberi nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product. Produk utamanya adalah lobster dengan merek dagang ‘Susi Brand’. Dari sini usahanya kemudian menanjak pesat. Susi Brand sanggup menembus pasar internasional. Oleh karena itu, demi efektifitas pengangkutan produk, pada 2004 ia mebeli sebuah pesawat jenis Cessna Caravan.

Akhir 2004, terjadi musibah tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Pesawat milik Susi tersebut adalah yang pertama berhasil mencapai wilayah terdampak untuk mengangkut bantuan. Pesawat yang awalnya untuk mengangkut hasil lobster itu akhirnya beralih fungsi untuk melayani misi kemanusiaan. Pengalaman ini membawa berkah tersendiri bagi sang pemilik. Susi pun tercetus untuk memulai bisnis penerbangan perintis dengan label “Susi Air”. Bisnis baru ini ternyata juga melesat cepat. Hingga 2012 Susi Air telah mengoperasikan 50 pesawat di bawah naungan PT ASI Pudjiastuti Aviation. Saat itu Susi Air telah mencatatkan pendapatan hingga Rp300 miliar,  mempekerjakan 180 pilot, dan melayani hingga 200 penerbangan perintis.

Dalam kehidupan pribadi, Susi pernah dua kali menikah. Suami pertamanya adalah Daniel Kaiser. Dari pernikahan pertama ini Susi dianugerahi dua anak: Panji Hilmansyah dan Nadine Kaiser. Pernikahan pertamanya kemudian kandas di tengah jalan. Susi lantas menikah lagi dengan Christian von Strombeck. Dari pernikahan kedua ini Susi melahirkan Alvy Xavier. Pernikahan kedua ini pun kandas di tengah jalan. Jadilah kini Susi sebagai orangtua tunggal yang membesarkan ketiga anak-anaknya.

Saat Kabinet Kerja pimpinan Presiden Jokowi resmi diumumkan, perhatian besar masyarakat Indonesia mendadak mengarah kepada Susi. Pasalnya, ialah satu-satunya menteri pascareformasi yang hanya tamatan SMP. Walau banyak yang mengakui kepiawaiannya dalam dunia bisnis, namun ada juga yang meragukan kemampuannya memimpin KKP.

Tak butuh waktu lama, beberapa saat setelah dilantik Susi langsung menegaskan keseriusannya memberantas illegal fishing (pencurian ikan oleh kapal-kapal asing). Menurutnya, KKP yang bekerjasama dengan pihak terkait akan menindak tegas kapal-kapal asing yang beroperasi di perairan Indonesia tanpa izin. Kapal dengan ukuran 70 gross ton (GT) ke bawah akan ditenggelamkan. Sedang kapal yang berukuran 200 atau 300 GT akan disita. Selama tujuh bulan menjabat, setidaknya ada 45 kapal asing yang telah ditenggelamkan.

“Tanpa kedaulatan, tanpa kita membuktikan bahwa kita kuat di laut, ya, kita akan terus-terus disepelekan oleh orang-orang yang bermaksud jahat dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari laut kita,” tegas Susi.

Lewat sepak-terjangnya, wajar kiranya jika Susi Pudjiastuti menjadi inspirasi bagi banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak pertama kali diperkenalkan sebagai menteri, gerak lakunya telah menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang giat bekerja. Saat berdiri menunggu Presiden Jokowi selesai mengumumkan nama-nama menteri Kabinet Kerja lainnya, tampak ada saja bagian tubuhnya yang tak pernah diam, seakan gereget ingin segera bekerja. Pandangan matanya juga lincah, sebagaimana yang biasanya dimiliki orang-orang yang brilian. Namun saying, Susi sendiri pernah menegaskan bahwa dirinya hanya akan menjabat sebagai menteri paling tidak selama dua tahun.

Random Posts

    Leave a Response

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>