Haji Tisa, Profesor bagi Nelayan Karang Song

Haji Cartisa

Majalah RM – Membayangkan perkampungan nelayan, sulit rasanya menghindar dari gambaran kumuh dan semerawut, lengkap dengan aroma amis yang menyengat. Umum diketahui memang, bahwa perkampungan nelayan adalah daerah terbelakang.

Namun, gambaran negatif itu jauh sekali dari muara Karang Song di Indramayu, Jawa Barat. Sejak memasuki jalan Pantai Song mengarah ke muara Karang Song, berjejer rumah-rumah berdinding beton lengkap dengan kendaraan bermotornya. Di sebelah kiri, ada sungai yang dihiasi kapal-kapal berukuran besar. Pada tepiannya, terdapat pula rangka-rangka konstruksi kapal yang sedang dibangun yang berukuran antara 30 dan 60 gross tonage (GT).

Perbedaan tersebut di atas tak lepas dari peran Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra yang sukses mengelola Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan keberhasilan nelayan Karang Song mengembangkan teknologi penangkapan ikan. Rata-rata perhari ikan yang masuk ke TPI Karang Song mencapai 70-80 ton dan omset sekitar Rp1 miliar. Dari banyak ikan yang masuk, tongkol dan tenggiri adalah yang paling dominan.

Tenggiri termasuk ikan perairan dangkal yang cukup sulit ditangkap karena memiliki tenaga yang sangat kuat. Beruntung Karang Song memiliki H. Cartisa yang berhasil mengembangkan jaring Millenium, yang terbuat dari senar berbahan plastik dan mengandung pospor. “Jaring Millenium itu bisa berkembang, pertama kekuatan, kedua kali dia mempunyai warna berkilauan, hingga dia itu memikat untuk makanan ikan, jadi kayak semacam teri. Jadi kalau di air, itu kayak hidup,” jelas laki-laki kelahiran 4 Agustus 1965 yang biasa disapa Haji Tisa itu.

Haji Tisa berhasil mengembangkan jaring melalui tiga periode. Periode pertama menggunakan bahan dasar lawe atau benang katun. Saat itu ia masih kecil, ikut orangtua membuat jaring mulai dari proses pemintalan hingga tahap akhir penjuringan. Begitu Haji Tisa beranjak dewasa, jaring yang digunakan sudah berbahan nylon. Dengan jaring nylon ini, ikan-ikan kecil ikut tertangkap juga. Haji Tisa muda berpikir, jika ikan kecil ikut tertangkap maka habitat ikan akan terancam. Untuk itu ia coba mengembangkan jaring nylon dengan mata jaring ukuran empat inci. Jaring nylon empat inci yang dikembangkan Haji Tisa ternyata meledak dan banyak diikuti nelayan lainnya. Namun sayang, kendalanya kini adalah dalam persoalan penangkapan ikan-ikan dasar.

Periode ketiga muncul setelah Haji Tisa melakukan konsultasi ke berbagai kalangan terkait kelemahan jaring nylon, terutama dalam persoalan penangkapan ikan di dasar laut. Haji Tisa pun coba menggunakan jaring berbahan senar plastik. Pertama kali penjuringan senar plastik ini dilakukan dengan senar tunggal (mono). Namun hasilnya gagal. Kemudian ia menerapkan teknik fly (poli) dengan menggabungkan delapan senar. “Pas pakai itu, di-fly, bagus dia. Lima inci waktu itu. Berkembang,” katanya.

Dengan jaring senar delapan fly, ikan yang berhasil ditangkap seperti kakap merah dan terisi. Untuk menangkap ikan dengan tenaga yang lebih besar, Haji Tisa mulai mencoba menggunakan 10 fly dan kembali ke ukuran mata jaring empat inci.

“Nah, terus sudah mulai kurang ikan-ikan di dasar itu, saya coba cari ikan tongkol, ikan tenggiri. Tapi dulu kan kita pikir begini, tenggiri itu paling dapat 10 persennya. Kenapa sih bisa mendapat 10 persen, jarang bisa sampai 40 persen? Yang 90 persen dapat yang macam-macamnya,” lanjut Haji Tisa.

Untuk alasan itu, ia pun mempertahankan mata jaring empat inci tapi menambah kekuatan dengan menggunakan 12 fly. Saat itulah jaring yang dikembangkan Haji Tisa berkembang pesat. Banyak yang mengikutinya. Jaringnya dikenal luas dengan nama Jaring Millenium. Walhasil, penghasilan nelayan Karang Song semakin meningkat. Haji Tisa kebanjiran pengunjung konsultasi dari pabrik-pabrik jaring dalam maupun luar negeri.

Tak hanya jaring, inovasi Haji Tisa juga berpengaruh kuat dalam teknologi perkapalan. Terutama terkait sistem pendinginan. Hasil tangkapan berlimpah membuat sistem pendinginan menggunakan es menjadi kurang efektif. Pendingin es membuat ikan hasil tangkapan tidak bisa bertahan terlalu lama, sehingga harga jual ikan jatuh karena kualitas rendah. Karena itulah ia kemudian mengembangkan kapal dengan sistem pendinginan menggunakan freezer. Dengan freezer kualitas hasil tangkapan dapat bertahan hingga dua bulan lebih.

Tak berhenti sampai di situ, saat ini Haji Tisa tengah mencari solusi penghematan bahan bakar untuk kapal. “Sekarang lagi mikirin itu bahan bakar naik. Tapi sudah ketemu saya itu, empat kapal udah. Saya percobaannya gini, kapal sama, mesinnya juga, jalan. Satu trip itu habisnya 16.000 liter. Nah saya otak atik lagi, kapalnya sama, habisnya cuma 11.000 liter/trip. Selisihnya 5.000 liter,” jelas Haji Tisa.

Demikianlah arti penting keberadaan Haji Tisa bagi nelayan Karang Song. Dengannya, nelayan Karang Song bisa menjauh dari bayang-bayang kemiskinan, keterbelakangan, bahkan kekumuhan. “Kami-kami ini follower. Jadi Pak Haji Tisa ini penemu, perintisnya. Jadi begini, misalnya Pak Haji riset ni, baik dalam hal kapal, soal jaring, maupun peralatannya, begitu Pak Haji berhasil, kami meniru. Jadi ya profesornya Pak Haji di sini,” ujar H. Nanong Setyarso, juragan pemilik tiga kapal yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Mina Sumitra.

Kepada pemerintah, Haji Tisa memberi saran, ada tiga syarat yang harus dilakukan jika hendak memajukan TPI: “Satu muara dibangun; kedua kali, aman gak lingkungan daerah itu; ketiga kali, ya pemasaran. Tapi pemasaran masih bisa direkayasa,” imbuh Haji Tisa.

Terkait

  • Ono Surono, KPL Mina Sumitra, dan Implementasi Semangat Gotong-Royong

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>