Benjamin Mangkoedilaga; Pendekar Keadilan yang Berintegritas

Majalah RMInnalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kamis, 21 Mei 2015, Benjamin Mangkoedilaga menghembuskan nafas terakhirnya. Mantan hakim agung ini meninggal dalam usia 77 tahun 7 bulan dan 21 hari.

Semasa hidupnya, Sarjana Hukum jebolan Universitas Indonesia (UI) ini, terkenal sebagai pribadi yang teguh memperjuangkan keadilan. Bahkan, untuk itu, ia tak segan-segan melawan arus. Tak heran, kepergiannya membuat banyak pihak merasa kehilangan. Iringan doa mengalir dari mana-mana, terutama dari dunia jurnalistik yang pernah merasakan pembelaannya.

Pengamat politik senior, Fachry Ali, mengenangnya sebagai “pendekar keadilan”. “Merasa kehilangan mendalam atas kepergian pendekar keadilan Benjamin Mangkoedilaga. Allah, Sang Maha Adil, akan menyambutnya dg senyum ramah,” demikian tulis Fachry Ali dalam akun Facebooknya.

Benjamin Mangkoedilaga lahir di Garut, 30 September 1937. Terlahir dari seorang ayah yang terkenal sebagai jaksa yang jujur, mungkin membuat garis nasib Benjamin Mangkoedilaga mau tak mau harus mewarisi jejak sang ayah berjuang di bawah panji hukum. Terbukti, upayanya masuk Akademi Militer Nasional (AMN) pupus. Benjamin Mangkoedilaga terpaksa mengubur cita-cita masa kecilnya menjadi tentara akibat mengidap penyakit mata, rabun jauh.

Benjamin Mangkoedilaga kemudian mengambil kuliah hukum di UI. Setelah menamatkan studinya, ia diangkat menjadi asisten dosen Fakultas Hukum UI (1962-1967). Sejak 1967, Benjamin Mangkoedilaga mulai meniti karir sebagai hakim. Selama sekitar 24 tahun ia malang-melintang di sejumlah Pengadilan Negeri. Pada 1991-1993, mantan Komandan Batalion Resimen Mahasiswa UI ini, dipercaya menjabat Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya.

Dari Surabaya Benjamin Mangkoedilaga lantas hijrah ke ibukota. Di mana ia mendapat tantangan yang akan melejitkan namanya. Pada 21 Juni 1994, Benjamin Mangkoedilaga membuat keputusan yang mampu mencengangkan banyak orang. Pasalnya, di tengah cengkraman supremasi Orde Baru, ia justru berani mengabulkan gugatan Majalah Tempo terhadap Menteri Penerangan, Harmoko. Majalah Tempo melayangkan gugatan setelah dibredel pemerintah.

Selain itu, Benjamin Mangkoedilaga juga pernah memenangkan gugatan lima perusahaan future trading terhadap Menteri Perdagangan yang mencabut Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) kelima perusahaan itu. Nama Benjamin Mangkoedilaga pun semakin melejit sebagai hakim yang berintegritas.

Keberanian Benjamin Mangkoedilaga membuat keputusan yang berseberangan dengan pemerintah saat itu, mendapat apresiasi dari banyak pihak. Dalam karir, ia kemudian diangkat menhadi hakim tinggi Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara (PTTUN) Medan (1996-1998) dan PTTUN Jakarta (1998-1999). Dari dunia pers, ia mendapat Anugerah Suardi Tasrif SH dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 1997, sebuah penghargaan yang didedikasikan kepada mereka yang gigih menegakkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, nilai-nilai keadilan, dan demokrasi.

Pada 2000, Benjamin Mangkoedilaga diangkat menjadi hakim agung di Mahkamah Agung. Dua tahun menjadi hakim agung dianggap sebagai puncak karir kehakiman suami dari Roosliana ini. Di luar itu, ia juga pernah mengisi posisi di beberapa lembaga, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Badan Arbitrase Nasional, Dewan Pers, dan Partnership to Support Governance Reform in Indonesia.

Kini, meminjam bahasa Fachry Ali, sang pendekar keadilan telah berpulang, meninggalkan dua anak Mada Dewi Yustika dan Mada Dies Natalia. Semoga jejak integritasnya dapat menjadi pedoman bagi kita yang ditinggalkan.

Random Posts

    Leave a Response

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>