Masyhari: Kiat Sukses Meraih Kekayaan dan Ketakwaan

Dipublis pada 11 May 2012 oleh   ·   1 Comment

“Muda Kaya Raya, Tua Masuk Surga.” Pepatah lama ini amat populer di telinga kita. Karena siapa pun tentu ingin menjadi “orang kaya di usia muda”. Dan karena itu pula lah, begitu banyak media yang amat gemar mempublikasikan sederet orang muda yang berhasil meraih predikat tersebut. Dan publik pun sontak berduyun-duyun mereflikasi jejak, jurus, tips dan trik mereka untuk menempati deret angka selanjutnya, tanpa sadar akan butir hikmah lainnya, “Tua Masuk Surga.”

Pun demikian teramat banyak buku bertemakan motivasi yang menegaskan pentingnya kehadiran keyakinan untuk mencapai kesuksesan dan kekayaan. Tanpa keyakinan semuanya akan membentur ruang hampa. Sayangnya, nyaris kering dari kosakata nan surgawi. Dan tentu saja berjarak dengan rasa kebatinan dari target kesuksesan itu sendiri.

Untuk itulah, buku yang ada di hadapan pembaca ini hadir. Dengan harapan dapat mengisi kekosongan dan sedikit memberikan kesejukan di tengah kehidupan material yang amat gersang seperti sekarang ini. Sebagai seorang muslim, Masyhari, penulis buku ini yakin, bahwa kaya itu tak hanya kaya harta, tapi juga kaya hati; seumpama pepatah di atas.

Melalui buku ini, Masyhari, seorang pengusaha jamu tradisonal di Jakarta mencoba menegaskan keyakinan itu dengan mengutip surah al-Ashar ayat1-3, bahwa manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali; pertama, orang yang beriman. Kedua, beramal shaleh. Dan ketiga orang yang saling menasihati tentang kebenaran-kebaikan setiap saat.

Jurus Kaya Orang Muslim, sengaja dipilih menjadi judul buku ini. Berisi tentang kekuatan beriman kepada Yang Kuasa kala memulai satu usaha. Tanpa modal iman, semua usaha yang kita lakukan tidak dapat dianggap memiliki nilai ibadah. Menjadikan diri kemarau spiritual dan bekerja adalah bagian dari kehidupan dunia yang tidak bernilai pahala.

Namun, beriman itu ternyata tidak cukup. Seorang muslim harus berusaha untuk melakukan amal usaha yang telah digariskan oleh syariat. Nilai-nilai syariat yang dikenalkan di buku ini berupa prinsip Ekonomi Islam. Setiap individu adalah mitra usaha yang berkedudukan sejajar dalam fungsi dan perannya dalam satu usaha. Transparan, saling percaya sekaligus kesamaan rasa baik dalam keadaan untung maupun rugi.

Dorongan spiritual inilah yang telah meyakinkan Masyhari, penulis buku ini untuk tidak menjadi seorang yang meminta-minta, melainkah harus berusaha. Menjadi orang kaya butuh keberanian memilih sikap rasional untuk melakukan aktivitas bisnis. Dan Masyhari telah memulainya sejak usia yang sangat muda (14 tahun).

Bagi Masyhari, seperti yang ditulis dalam buku ini, kegiatan bisnis merupakan bagian dari misi memberikan manfaat lebih banyak kepada orang lain. Sebuah pola hubungan bisnis harus dibangun dari keinginan untuk berbagi dan menghindarkan diri dari pemanfaatan kekayaan untuk diri sendiri.

Bagi seorang muslim, bisnis bukan hanya untuk mengumpulkan harta kekayaan. Tapi sebagai bentuk realisasi kekhalifahan yang sempurna, yakni beribadah kepada Allah Swt. Seorang muslim tidak akan melakukan cara –cara yang tidak halal. Dan mereka akan melakukan bisnis sesuai dengan ketentuan syariat.

Untuk menajamkan jurus kaya di atas, Masyhari berusaha menyelami lautan makna al-Qur’an. Kitab suci ini sedari awal ia yakini sebagai sumber utama untuk melakukan bisnis. Sembari terus berusaha mengembangkan bisnisnya.

Al-qur’an tidak hanya ditempatkan sebagai sumber dasar bagi kegiatan bisnis. Tapi juga menyimpan jurus-jurus yang dapat dijalankan bagi seseorang, khususnya muslim dalam menjalankan roda bisnisnya. Semisal surat al-Hujarat:15 yang bermakna sangat dalam bagi seorang bisnis. Yakni memiliki mimpi dan tekad kuat dalam hatinya untuk berbisnis.

Iman, dalam surat al-Hujarat:15 dapat diumpamakan dengan prinsip dasar yang mutlak dimiliki seorang muslim yang hendak memulai bisnis. Prinsip dasar itu adalah kemantapan pikiran dan keyakinan hati. Makna ini erat dengan hukum bisnis; sukses dan gagal seseorang ditentukan oleh pola pikir (mindset) dalam memandang dan menyikapi sesuatu.

Saat petaka menimpa bisnisnya, Masyhari tak putus asa dan meratapi nasibnya. Sebaliknya, ia makin mantap dan merasa telah mendapat perlajaran yang sangat berharga. Ia kembali bangkit, hingga akhirnya menemui saat-saat terbaik dalam bisnisnya.

Memperhatikan cara buku ini mendedakan makna al-Qu’an, bisa dikatakan buku ini semacam buku tafsir menjadi kaya. Bukankah sebuah tafsir selama ini diartikan sebagai metode untuk menafsirkan al-Qur’an. Keberbedaan buku ini dengan buku tafsir, boleh jadi terletak pada sisi paling aplikatif dan aktualnya dalam mengaitkan makna al-Qur’an dengan prinsip-prinsip bisnis pada umumnya.

Buku ini diakui oleh penulisnya baru sekadar pengantar. Karena konsep-konsep bisnis yang terdapat dalam al-Qur’an begitu banyak. Dan setiap konsep, akan mampu memberikan pencerahan dalam pengembangan bisnis. Dari konsep-konsep itulah nantinya lahir buku-buku berseri. Dan untuk itulah, sebagai pengantar, buku ini layak untuk dibaca oleh siapa pun terutama bagi orang-orang tak sekadar ingin kaya, taip juga masuk surga. Selamat membaca!

Informasi buku

Judul : Jurus Kaya Orang Muslim
Penulis : Dr. H. Masyhari, SE, MM.
Penerbit: RMBooks
Volume : 266
Terbit : Pertama 2012

Terkait

  • Ayat-Ayat Revolusi Diri
  • Membaca Dakwah Dalam Tulisan
  • MEMIMPIN DENGAN KARYA NYATA
  • Dilema Sang Presiden
  • “The Da Vinci Factor”, Lejitkan Potensi Diri Tanpa Batas

Tags:

Komentar Pembaca (1)

  1. bgus sekali buku ini aku sudah pernah membacax