Erwin Aksa: Belajar Bisnis Sejak Dini

Erwin Aksa Mahmud sewaktu kecil pada tahun 80-an, didoktrin oleh orangtuanya untuk menjadi pengusaha. Doktrin itu masih melekat kuat dalam memori Erwin, melekat hingga dewasa. Berkat didikan itu pula, Erwin Aksa terpilih menjadi orang nomor satu di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Tak berlebihan jika dikatakan, putra pengusaha Sulawesi Selatan—pemilik Bosowa Corporation Aksa Mahmud—ini merasa didoktrin oleh orangtuanya sendiri. Karena, fakta menunjukkan, sang ayah memang dikenal publik sebagai pengusaha sukses dan pernah dipercaya dua kali memimpin HIPMI.

Sang ayah, yang pernah menjadi wakil ketua MPR, kerap menjadi inspirator utama dalam hidup Erwin. Akankah jejak sang ayah terus menyumbang energi positif pada Erwin yang sedang meniti karier cemerlangnya? Siapa tahu?

Ibarat pepatah, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Tampaknya, peribahasa ini amat relevan dengan yang dialami Erwin. Mulai dari kecil, ia sudah diarahkan oleh orangtuanya untuk menjadi seorang pengusaha. Erwin yang ketika itu masih berusia 10 tahun dan tinggal di Makasar mengaku sudah dididik sedemikian rupa untuk menjadi pengusaha handal.

”Pada saat itu, saya memang sudah didoktrin untuk bisa masuk sebagai bagian dari dunia usaha. Karena, sejak kecil orangtua sudah mengajarkan bagaimana bisa berdagang. Dari kecil orangtua saya sangat disiplin dalam mengajarkan ideologi-ideologi dan prinsip-prinsip tentang kekeluargaan, tentang semangat kewirausahaan. Dari dulu saya diwajibkan untuk ikut berkantor dalam prosesnya,” akunya.

Dunia usaha menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri Erwin. Dengan tempaan seperti itulah, maka tak mengherankan bila dalam perkembangannya ia sukses sebagai seorang pengusaha muda di negeri ini. Meski begitu, semua itu tidak dengan mudah diraih Erwin. Semuanya tentu ada proses yang mesti dilaluinya. Butuh perjuangan dan kerja keras!

President Director dari Bosowa Corporation yang lahir di Ujung Pandang pada tanggal 7 Desember 1975 ini memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Pembangunan III, Makassar pada tahun 1981-1987. Lalu, melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Islam Athirah, Makassar pada tahun 1987-1990. Setelah itu, Erwin pun melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Bandung pada tahun 1990-1993.

Sejak kecil, Erwin suka dengan matematika, statistik, perhitungan atau pelajaran yang berbau angka-angka, maka ketika tamat dari SMA pada tahun 1993, ia pun melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat dengan mengambil jurusan ekonomi di University of Pittsburgh, Pennsylvania. Erwin kuliah di sana, kurang lebih selama tiga tahun. Ketika kuliah di Negeri Paman Sam itu, ia belajar banyak hal mengenai ekonomi seperti perhitungan, probability, projection dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan perekonomian dan jurusan yang dipilihnya.

“Karena memang saya sejak kecil suka dengan matematika, perhitungan, statistik dan sebagainya. Jadi, waktu kuliah memilih ekonomi. Karena, disitu banyak hitungan. Saya kalau belajar sastra dan lainnya tidak biasa. Jika disuruh pilih menulis atau menghitung, saya lebih memilih berhitung,” tuturnya.

Minat terhadap terhadap dunia angka-angka ini bukan faktor orangtuanya. Tapi, karena kesukaan Erwin sejak kecil dan tuntutan lingkungan keluarga pengusaha yang menghajatkan kemampuan untuk menghitung.

“Karena memang seperti tadi, kalau dari kecil telah menjadi karakter. Saya suka berhitung. Lalu, karena orangtua saya adalah seorang entrepreneur dan bila masuk ke perusahaan saya juga sering melihat angka-angka, akhirnya saya terbentuk untuk menyukai angka-angka atau perhitungan,” tuturnya.

Penggemblengan dan bakat Erwin untuk menjadi seorang pengusaha tidak hanya diperoleh dari dunia usaha semata sebagaimana doktrin orangtuanya. Atau melalui dunia pendidikan formalnya yang diperoleh mulai dari Makasar, Bandung, hingga Amerika Serikat. Namun, di balik itu semua, ternyata Erwin mempunyai kelebihan lain yang mampu ia lakukan guna menunjang perjalanan kariernya ke depan. Diantaranya adalah kesukaannya di dunia olahraga dan organisasi.

Erwin adalah pemuda yang menyukai tantangan dan mampu beradaptasi dengan siapapun, dimanapun berada. Dengan bekal itulah maka sejak di bangku sekolah, ia sudah aktif di berbagai perkumpulan dan organisasi.

Kemampuan berorganisasi dan kemampuannya beradaptasi dapat terlihat semenjak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Saat itu ia sudah sangat menyukai olahraga selancar angin, olahraga populer di Makasar yang dapat memacu adrenalinnya. Erwin ikut aktif menjadi anggota salah satu klub selancar angin di sana.

Pada masa inilah Erwin mulai memperlihatkan kemampuannya beradaptasi dengan teman-teman yang lebih senior darinya. Teman-teman senior yang kebanyakan sudah berkuliah. Padahal ia ketika itu baru berusia sembilan tahun. Tanpa sungkan atau malu-malu lagi, ia bertanya banyak hal tentang selancar angin dan sebagainya. Inilah yang memicu Erwin. Dia mampu belajar cepat.

Diantara pelajaran yang ia dapat dari kegiatan seperti itu menurutnya adalah bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua daripada dirinya, serta mampu membiasakan sikap disiplin dalam kehidupan pribadinya.

“Disitu saya belajar dengan teman-teman lain yang lebih senior dengan saya yang telah berumur kuliahan. Sementara saya masih sangat muda sekitar 9 tahun. Jadi saya banyak belajar bagaimana menghormati orang yang lebih tua (senior), tatakrama. Di olahraga itu kan kedisiplinan yang lebih penting, bagaimana kita menghargai orang yang lebih tua, orang yang mengajar kita dan sebagainya,” jelas Erwin.

Sampai tingkat SMP, ia masih mengikuti kegiatan olahraga selancar angin. Erwin sering mengikuti kegiatan lomba selancar angin. Mulai dari tingkat daerah, nasional hingga olimpiade. Karena, berbagai kegiatan itulah ia pun mulai sering bolos sekolah.

Karena alasan itulah akhirnya, ketika tamat dari SMP, orangtuanya memindahkan Erwin ke kota yang tidak ada lautnya. Pilihan pun jatuh ke kota Bandung. Dia dikirim ke kota itu untuk alasan masa depan. Sebagai anak, dia tak punya pilihan, kecuali menuruti kemauan sang ayah.

“Padahal, terus terang saya sangat maniak dengan olahraga ini. Saya sering bolos dan tidak masuk sekolah. Sehingga waktu masuk SMP orangtua saya melarang untuk tidak masuk surving lagi sehingga diputuskanlah bersekolah yang tidak ada lautnya, yaitu Bandung. Akhirnya saya memulai kehidupan baru,” tuturnya.

Erwin melanjutkan sekolah di SMA 5 Bandung. Di sekolah yang lulusannya banyak menjadi artis, seniman, dan yang lainnya ini, dia memang tidak bisa lagi menjalankan kesukaannya berselancar. Karena, memang sekolah Erwin yang baru ini adalah sekolah yang mempunyai banyak prestasi di bidang seni, bukan olahraga.

Namun begitu, hal itu tidak berarti mematikan kreativitas Erwin. Melainkan sebaliknya, ia memperlihatkan kreativitasnya yang lain muncul. Dia sering didaulat oleh kawan-kawannya menjadi bendahara sekaligus organizer.

Aktivitasnya sebagai bendahara dan organizer disebabkan banyaknya kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan semacam ini biasanya membutuhkan bendahara yang juga mampu mengumpulkan orang-orang untuk mengadakan suatu kegiatan. Walau begitu, mengumpulkan orang-orang atau mengorganisasikannya dalam suatu event ternyata juga sudah menjadi hobi Erwin sejak kecil. Tak heran bila setiap kegiatan yang diadakannya selalu sukses.

“Karena di sekolah banyak ekstrakurikuler, maka saya lebih banyak ditempatkan sebagai bendahara atau organizer. Saya sebagai penyelenggara banyak event di sekolah. Saya akui, sejak kecil sudah hobi mengumpulkan orang. Atau berkumpul dengan teman, untuk membuat acara. Saya dilatih untuk menjadi ketua panitia, sekaligus bisa mencari dana atau sponsorship dan sebagainya,” kenangnya.

Selepas lulus SMA, Erwin melanjutkan pendidikan formalnya di Amerika Serikat selama tiga tahun. Negeri yang menurutnya telah memberi kontribusi berharga bagi pendidikan dan pengalamannya. Modal berharga untuk memulai kariernya. Ia pulang dari Amerika Serikat pada tahun 1997.

Di tahun ini pula Erwin menjadi deputi dalam sebuah proyek yang sedang dibangun di Sulawesi Selatan. Kebetulan pimpinan proyeknya adalah ekspatriat asing. Di tempatnya bekerja, Erwin dibawahi oleh seorang ekspatriat asing dan profesional. Atasannya ini banyak memberikan pengetahuan tentang komunikasi, bagaimana melobi dan etika bisnis. Hal yang lebih penting adalah pengalaman-pengalaman bertemu dengan banyak orang, khususnya orang asing. Jadi sebagai project manager, mengharuskan ia banyak keluar daerah dan keluar negeri, bertemu dengan pihak perbankan, international community dan sebagainya. Dari berbagai pengalaman itulah Erwin semakin bertambah confidence.

“Disitu ia membangun kepercayaan diri saya. Karena, saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang penting. Ikut rapat, bergaul dan bercanda, mengatur pertemuan dan membicarakan banyak hal. Saya bisa menjadi bagian dari pertemuan-pertemuan penting,” katanya.

Karena kecintaannya pada dunia olahraga, dalam waktu yang tidak lama, sekembali dari kuliah di Amerika, Erwin juga mengurus dan mengelola sebuah klub olahraga di Makasar, PSM Makasar. Alasannya karena sepakbola dianggap sebagai salah satu olahraga yang digemari dan disukai oleh masyarakat Makasar. Sepakbola sudah menjadi lifestyle bagi masyarakat di sana. Sehingga Erwin tertantang untuk masuk dan menahkodainya.

Namun, perjuangan dan tantangan Erwin tidak kecil. Karena PSM merupakan salah satu tim elit di Liga Indonesia. Apalagi pada masa sebelumnya, PSM dipimpin oleh Nurdin Halid. Dimana pada masa kepemimpinannya ini, PSM pernah menjadi juara liga Indonesia.

Berkat kepiawaiannya mengelola dan mengorganisasi orang, Erwin tidak takut dan gentar. Malah sebaliknya, ia termasuk berhasil dalam menangani klub sebesar PSM Makasar. Sehingga atas keberhasilannya itu, ia patut mendapatkan sanjungan. Di bawah arahannya, PSM kembali menjelma sebagai salah satu kekuatan sepak bola Liga Indonesia, meski hanya menempati posisi runner-up.

Meski begitu, setidaknya Erwin telah mengembalikan citra dan pamor PSM sebagai salah satu tim elit di liga Indonesia. Hal itu juga memberikan tanda bahwa ia memang telah mampu mengelola salah satu klub ternama di Indonesia.

Erwin terbilang berhasil. Meski hal itu tidak serta-merta langsung mengangkatnya menjadi orang nomor satu di Bosowa Corporation. Semua butuh perjuangan. Butuh karya nyata.

Dia memulai kariernya di perusahaan keluarganya itu sebagai executive director & deputy VPD PT Semen Bosowa Maros pada 1997. Di tahun 2005, secara perlahan tapi pasti, jabatan dan kariernya naik sebagai direktur utama PT Bosowa Energi. Hingga pada perkembangan selanjutnya, jabatannya terus menjulang. Erwin dipercaya untuk menjabat sebagai president director Bosowa Corporation.

Kisah perjalanan panjang hidupnya dalam berkarir sebagai pengusaha hingga kemudian menjadi orang nomor satu di HIPMI tentu semuanya tidak lepas dari dukungan moril maupun spirituil keluarga yang menyayanginya. Apalagi dukungan itu diberikan sepenuhnya dari istri tercintanya Andi Fatmawati Manggabarani serta putra-putrinya yaitu; Trinisha Erwin Aksa, Shayla Erwin Aksa dan Muhammad Yusuf Erwin Aksa.

Karena dukungan itu merupakan bahan bakar hati yang dapat memacu semangat kepala keluarga demi berbakti dan mengabdi untuk masyarakat dan negara. Begitu pun yang terjadi terhadap Erwin Aksa.

Dukungan itu terasa lengkap dan sempurna, karena datangnya tidak hanya dari keluarga saja. Tetapi, dukungan itu juga datang dari orangtuanya yang juga menginspirasinya hingga membuka jalan hidupnya. (Muhtar Sadili)

Terkait

  • MS HIDAYAT: Menjalani Panggilan Ibu Pertiwi
  • A.A Bagus Jelantik Sanjaya, MBA: Menggeliatkan Ekonomi Lokal
  • Fahmi Harsandono Matori:  Menyeimbangkan Kesadaran dan Aksi Nyata
  • Haji Alay: “Dokter Mal” yang Sukses Mengawinkan Bisnis dan Dakwah
  • KEMAS DANIAL: Termotivasi Memajukan Koperasi

2 Responses to Erwin Aksa: Belajar Bisnis Sejak Dini

  1. koko caskoni

    Inspirasi untuk anakku

  2. rasdi

    saluut to Bp. Erwin Aksa, semoga bisa meng-inspirasi pemuda unt bisa sukses dalam bisnis dan pantang menyerah

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>