Pilihan Politik Hasto Kristiyanto

Hasto Kristiyanto (Foto: Google)

Majalah RM – Berkecimpung dalam dunia politik adalah sebuah pilihan. Pilihan hidup yang menuntut pengorbanan dan perjuangan.

Sebagai politisi, Hasto Kristiyanto sadar betul akan hal itu. Sejak awal, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini paham, bahwa menjadi politisi adalah pilihan jalan pengorbanan.

Saat menjadi Anggota DPR RI Periode 2004-2009 untuk daerah pemilihan Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek di Jawa Timur, Hasto mengaku pernah ditawari sejumlah uang, tanah, dan kedudukan penting agar memuluskan suatu peraturan. Namun, dengan tegas ia tolak semua itu. Insinyur teknik kimia dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini, juga sempat menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Free Trade Zone Kawasan Batam, karena menilai ada kepentingan perusahaan-perusahaan besar di balik peraturan itu.

Begitulah Hasto, berpolitik bagi ayah dua anak ini adalah keberpihakan, terutama kepada mereka yang dipaksa miskin oleh sistem yang tidak adil. Sayang, Hasto gagal melangkah ke Senayan pada Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) 2009. Tapi kegagalan ini tak membuatnya berputus asa. Tak lagi menjadi anggota parlemen, Hasto sepenuhnya menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk partai politik.

Dedikasinya yang tinggi terhadap partai itu menuai hasil manis. Setelah dua periode sebelumnya hanya menduduki jabatan wakil sekretaris jenderal (Wasekjen), pada Kongres IV PDIP, 9-12 April 20015, Hasto dipercaya mengemban tugas Sekjen DPP PDIP periode 2015-2020.

Hasto lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 7 Juli 1966. Pendidikan akademiknya, mulai dari Sekolah Dasar hingga jenjang S-1, semua ditempuh di Kota Pelajar, sebutan untuk DI Yogyakarta. Waktu duduk di bangku SMA, Hasto pernah punya pengalaman buruk. Ia mendapat nilai merah untuk mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP, kemudian diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/PPKn). Pengalaman inilah yang kemudian mengantarkannya pada kesukaan membaca karya pemikiran Soekarno.

Hidup di zaman Orde Baru, bukanlah hal yang menyenangkan bagi para pengagum Bung Karno. Termasuk Hasto muda, yang merasa tak pernah leluasa walau hanya untuk mempelajari ajaran presiden pertama Indonesia itu. Hasto muda lantas mulai tertarik pada dunia politik. Semangatnya adalah untuk melawan ketertindasan. Saat kuliah, ia pernah menjabat Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM.

Niat Hasto terjun ke dunia politik ternyata disambut baik pihak gereja tempat ia bernaung. Bimbingan rohani yang ia dapat dari gereja menjadi modal spiritual dalam setiap langkah politiknya. Hingga kini, Hasto masih mendapat bimbingan dari Pastor Herman Joseph Suhardiyanto SJ.

Sebelum terlibat dalam partai politik, suami dari Maria Stefania Ekowati ini, sebenarnya sempat mengadu nasib di dunia bisnis. Pengalaman bisnis membuatnya berkesempatan meraih gelar Magister Manajemen (MM) dari Prasetya Mulya Business School Jakarta. Ia juga sempat menjadi direktur di PT Prada Nusa Perkasa.

Namun panggilan politik terus menyeru dan bergaung ditelinganya. Sehingga ia tak mampu membendung hasratnya untuk bergabung dengan PDIP, partai politik yang dipimpin oleh putri sang idola, Megawati Soekarnoputri.

Random Posts

    Leave a Response

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>