Budi Gunawan; Wakapolri Pendamping Badrodin Haiti

Budi Gunawan. Foto: JPNN.com

Majalah RM - Lengkap sudah, setelah 17 April 2015 lalu Kepolisian Republik Indonesia (Polri) resmi memiliki kepala yang baru, kini laskar bhayangkara itu juga punya wakil kepala yang baru.

Di tengah hiruk-pikuk pro-kontra, Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan akhirnya dilantik menjadi Wakil Kepala Polri (Wakapolri) mendampingi Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Pelantikan itu sendiri dilakukan secara tertutup di Markas Besar (Mabes) Polri pada Rabu, 22 April 2015.

Komjen Pol. Budi Gunawan lahir di Surakarta, 11 Desember 1959. Laki-laki berkumis ini merupakan peraih penghargaan Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akademi Polisi (Akpol) 1983.

Perjalanan karir Budi Gunawan di kepolisian bisa dikata cemerlang. Terutama setelah menjadi ajudan Presiden RI kelima, Megawati Soekarnoputri. Saat itu ia menyandang pangkat komisaris besar (Kombes).

Pada 2004 Budi Gunawan meraih tanda bintang pertamanya. Ia tercatat sebagai jenderal termuda di Polri. Saat itu, Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol. Budi Gunawan yang baru berusia 45 tahun dipercaya menjabat Kepala Biro Pembinaan Karyawan (Karo Binkar) Mabes Polri.

Budi Gunawan tercatat pernah dua kali menjabat sebagai kepala kepolisian daerah (Kapolda). Pada 2008-2009, ia diberi amanat menjaga keamanan wilayah Jambi. Dan saat menyandang dua bintang di masing-masing pundaknya, Inspektur Jenderal (Irjen) Pol. Budi Gunawan dipercaya sebagai Kapolda Bali (2012).

Akhir 2012, perwira polisi yang terkenal sebagai polisi intelek karena prestasi akademiknya ini dipercaya menjadi Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol). Pangkatnya pun ikut terdongkrak hingga menjadi komisaris jenderal (Komjen).

Pada awal 2015, Komjen Pol. Budi Gunawan sempat menjadi calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Pol. Sutarman yang dipercepat pensiunnya oleh Presiden Joko Widodo. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI juga telah menyetujui Budi Gunawan sebagai Kapolri yang baru.

Namun sayang, persoalan rekening gendut perwira Polri mengganjalnya. Sehari sebelum menjalani uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Kapolri di Komisi III DPR RI, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi. Harta kekayaan Budi Gunawan dianggap tidak wajar setelah mengalami penambahan hingga lima kali lipat dalam rentang waktu hanya lima tahun. Pada 19 Agustus 2008 Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) Budi Gunawan senilai Rp4,684 miliar, dan pada 26 Juli 2013 LHKPN-nya bertambah menjadi Rp22,6 miliar dan US$24 ribu.

Tapi kemudian, praperadilan membatalkan status tersangka Budi Gunawan. DPR lantas mendesak Presiden Jokowi agar segera melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri. Apa nyana, atas alasan yuridis dan sosiologis, Presiden Jokowi membatalkan pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Alih-alih, presiden RI ketujuh itu justru menggantinya dengan nama baru, Badrodin Haiti. Nama terakhir ini pun disetujui oleh DPR RI menjadi Kapolri yang baru.

Setelah gagal menjadi Kapolri, jabatan Wakapolri dianggap layak bagi Budi Gunawan. Akan tetapi, ada juga beberapa pihak yang tidak setuju dengan anggapan itu. Menurut mereka yang tidak setuju, bagaimana pun kasus hukum yang menimpanya belum sepenuhnya selesai, karena KPK telah melimpahkan kasus tersebut ke kejaksaan, yang kemudian melimpahkannya kembali ke Bareskrim Mabes Polri. Sebagian pihak menilai, kasus itu dianggap selesai kalau sudah terbit Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

Terlepas pro-kontra tersebut, dengan segala pertimbangannya, akhirnya Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) Polri menetapkan Budi Gunawan sebagai Wakapolri. Inilah Wakapolri kita yang baru.

Terkait

  • Badrodin Haiti; Sang Jenderal “Bertangan Dingin”

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>