Mengajak Kebaikan dengan Bermusik

Al-Qur’an acapkali disebut sebagai mukjizat terbesar sepanjang zaman. Pengaruhnya bagi peradaban manusia sungguh tak terhingga dan tak tertandingi oleh teks-teks lain yang pernah ada. Al-Qur’an telah menjadi titik pangkal dan titik tuju peradaban. Pada satu sisi, al-Qur’an mendorong pengembaraan intelektual dan emosional dan spiritual hingga merambah kemana-mana, namun pada saat yang sama “godaan” untuk selalu merujuknya dan menjamahnya juga sedemikian kuat.

Menariknya mukjizat al-Qur’an bisa dirasakan, disaksikan dan dialami hanya oleh para ulama atau elit agama, tapi juga siapa saja. Termasuk orang yang biasa-biasa saja. Salah dimensi keajaiban al-Qur’an yang juga dirasakan oleh banyak petunjuk, menginspirasi dan mengubah jalan hidup manusia. Sejak diwahyukan hingga zaman sekarang. Sering sekali kita mendapati kisah seseorang yang mendapatkan petunjuk atau hidayah (yang tidak biasa) dari suatu ayat al-Qur’an.

Al-Qur’an telah menginspirasi banyak orang untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup, mulai dari mencetuskan karya dan gagasan besar seperti yang dialami oleh Farhan Zainal Mutakin (Faank).  Personil Wali Band yang memiliki suara emas seindah almarhum Chrishye. Seumpama Chrisye, ternyata Faank Wali juga banyak terinspirasi dari ayat- ayat al-Qur’an. Mulai bagaimana ayat al-Qur’an dilantunkan, ditulis hingga makna-makna yang tersirat dari tiap hurup, kata dan kalimat dalam ayat al-Qur’an tersebut.

Kita tentu masih ingat bagaimana Crisye, pernah melantunkan sebuah lagu yang cukup fenomenal di era 90-an. Ya, lagu tersebut adalah “Ketika tangan dan Kaki Berkata.” Taufik Ismail yang kala itu ikut membantu Crisye menggarap lagu tersebut mengatakan, “setelah saya dengarkan, lagu ini ternyata indah dan cantik jelita.”

Pun demikian dengan Faank,  yang banyak terinspirasi ayat-ayat al-Qur’an dalam menemukan lyrik maupun lagu yang dinyanyikannya. Sehingga akhirnya pria kelahiran Sukabumi 23 Mei 1979 ini berhasil meraih kesuksesan yang tiada tara. Padahal, jauh sebelum Faank bersama rekan-rekannya meraih sukses, Faank adalah anak kuliahan yang hidup apa adanya di kawasan ciputat. Yang saban hari senin dan kamis harus berpuasa karena kiriman orangtua yang pas-pasan. Yang saat bulan puasa menjelang mereka harus mengantri selepas shalat magrib hanya sekadar untuk mendapatkan ta’zil dan sebungkus nasi untuk berbuka. Rutinitas itu mereka lakukan karena harus mengirit untuk bisa pulang kampung kala liburan iedul fitri menjelang.

Bila ditanyakan kepada teman-temannya selama kuliah; baik teman satu kos, satu kelas, satu organisasi ataupun satu tongkorangn di jalan pesanggrahan, maka nisacaya mereka akan engungkapkan ketidakpercayaannya bila Farhan (faank), Apoy, Nunu dan Tomy kelak menggapai kesuksesannya dengan jalur musik. Pasalnya, telah banyak teman dan para senior mereka yang gemar bermain musik di kala kuliah, namun setelah lulus tetap saja kembali ke alam mereka di dunia pendidikan. Menjadi guru, meneruskan usaha orangtua atau pun mengurus yayasan keluarga.

Tapi Faank, Apoy, Tomy dan Ovie pun berhasil menjawab keragu-raguan teman-temannya tersebut. Tahun 2008 wali band merilis album pertamanya, dan langsung menjadi hit dan banyak digemari masyarakat. Rumus kesuksesan wali band sebetulnya ada pada lyrik lagunya yang mudah dicerna namun syarat dengan pesan moral. “Aku Cinta Allah” merupakan sebuah lagu yang mereka ciptakan dan rilis di album pertama yang merupakan ungkapan para anggota wali band akan kecintaan dan kepasrahannya pada Allah.

Di album selanjutnya, pesan moral dan nilai-nilai yang termaktub dalam ayat-ayat al-Qur’an semakin mengalir dalam setiap lantunan lagu-lagu wali band. “Mari Shalawat” dan “Tobat Maksiat” adalah dua lagu yang masing-masing dirilis dalam album kedua dan ketiga yang juga terinspirasi dari pesan-pesan moral yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an.

“Bermusik itu juga bisa kita jadikan sebagai media untuk berdakwah, apalagi bila musik yang kita bawakan mengajak kita kepada kebaikan,” ungkap Ustadz Jujun Junaedi ketika menjawab pertanyaan Faank dalam sebuah acara televisi “Ngaji Bareng Wali.”

Perkataan sang Ustadz rupanya begitu meresap dalam hati Faank. Untuk itulah Faank bersama rekan-rekan Wali Band lainnya senantiasa berharap bila apa yang mereka lakukan kini dan di masa yang akan datang dapat mengajak orang kepada kebaikan. “Karena hanya dengan jalan seperti itulah kita juga akan mendapatkan kebaikan,” ungkap Faank.

Terkait

  • Franz Magnis Suseno: Kagum Budaya Jawa
  • Sandra Dewi: Bingkai Prestasi Gadis Perantauan
  • R.A. Kosasih: Bapak Perintis Komik Indonesia
  • Ebiet G. Ade: Maestro Musik Pop Indonesia
  • Dewi Lestari: Penulis yang Bernyanyi

One Response to Mengajak Kebaikan dengan Bermusik

  1. asss alamualaikum apa kabar kak faank oh ya salam parawali pekalongan ya (tya)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>