Benny K. Harman: Memimpikan Tegaknya Negara Hukum

“Saya tidak mau menjadi tentara dari seorang kapten yang kapalnya karam. Yang menyelusup ke laut terdalam”. (I don’t want to be a soldier/Who the captain of some sinking ship. Whould stow, far below). Nukilan ini tampaknya cocok untuk merepresentasikan peran dan kiprah Benny K. Harman dalam epos “peperangan politik BBM” yang baru saja dimenangkan Partai Demokrat dan partai-partai koalisinya akhir minggu kemarin (31/3/2012).

Nukilan yang dicomot dari sebuah tembang yang merupakan experimental record sekaligus juga political record dari grup band Coldplay. Lagu ini menyasar kepada perjuangan unjuk gigi dalam peperangan politik, agar jangan pernah mau menjadi seorang politisi yang berada di bawah seorang pemimpin yang hanya pandai berisik tapi justru menenggelamkan seluruh anggotanya ke dasar lautan.

Dalam sidang paripurna tersebut, Benny aktif bersuara untuk menyakinkan anggota DPR lainnya yang seakan tak pernah berhenti mempertanyakan ikhwal batas akhir penetapan RUU APBNP 2012.

Marzuki Alie yang saat itu terlihat kewalahan menghadapi para anggota dewan dari partai oposisi akhirnya meminta Benny, Ketua Komisi II DPR bidang hukum untuk menjelaskan tentang batas waktu tersebut.

Benny pun dengan tenang menjawabnya, bahwa sesuai pasal 161 ayat 4 UU tentang MD3, maka batas akhir pembahasan dan penetapan RUU ABPBNP 2012 ini adalah sampai dengan 6 April 2012. Substansi pasal ini menyatakan bahwa pembahasan dan penetapan RUU APBNP dilakukan pemerintah.

“Saya tegaskan bahwa kata sejak diajukan kepada Dewan adalah waktu dimulai pembahasan RUU ini. Dan waktu pembahasan adalah bulan 3 2012,” tegas Benny. Marzuki Alie melihat bahwa peserta sidang sudah semakin mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Benny K. Harman tersebut. Dan akhirnya, proses voting pembahasan pasal RUU APBN-P 2012 dilanjutkan. Dengan kemenangan telak partai Demokrat dan partai koalisi.

Bila ada kisah para dewa dari kayangan, maka ini bukanlah kisah seorang pendekar dari negeri antah berantah. Ini bukan pula adu bersilat lidah belaka, bahwa sepiring berlian akan datang begitu saja tanpa usaha dan pikiran.

Inilah kisah pendekar hukum yang lahir di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur. Dan Benny Kabur Harman adalah orang yang tidak lahir begitu saja menjadi pendekar hukum, tanpa perjuangan.

Sebelum tercatat sebagai Ketua Komisi III Bidang Hukum DPR- RI, alumnus S2 Fakultas Hukum UI ini telah banyak melintang di dunia hukum dan advokasi. Mulai dari menjadi staf non ligitasi di YLBHI, hingga menjadi pendiri dan anggota Lembaga Studi dan Advokasi Independen Peradilan (LEIP).

Satu hal yang kerap ia ungkapkan sebagai impiannya untuk Indonesia adalah menjadi negara hukum yang mampu memadukan pluralisme dan individualisme. Dengan ini ia berharap bahwa kelak individu-individu dapat mendapatkan kenyamanan dan kemampuan untuk berkreasi namun tanpa menafikan bahwa mereka ada dalam komunitas yang plural. (Mrf)

Terkait

  • Humphrey Djemat: Pendidikan Advokat dari Seorang Ayah
  • Pradjoto: Bertaruh Nyawa Demi Hukum
  • Chairuman Harahap: Terpanggil Mengawal Tegaknya Supremasi Hukum

One Response to Benny K. Harman: Memimpikan Tegaknya Negara Hukum

  1. purwanto

    ini adlh salah satu toko,yg patut dipuji n dibnggakan.smga sukses pa beny org no 1.ntt.nk imbi ata one sok bo ata joak one daerah ru.klo pa beny q puji.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>