Daniel Johan: Aku Bernafas Maka Aku Ada

Daniel Johan (Foto: Satuharapan)

Majalah RM – Ungkapan yang paling terkenal dari Rene Descartes adalah “Aku berpikir maka aku ada”. Sebuah ungkapan yang menerangkan bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh sejauh mana ia dapat mengelola dan mengembangkan akal sehatnya.

Namun ungkapan tersebut perlahan dilupakan. Bahkan menurut Anggota DPR RI periode 2014-2019, Daniel Johan, ungkapan tersebut tidak relevan lagi di zaman konsumerisme seperti sekarang ini. Saat ini, ia menjelaskan, eksistensi manusia diukur dari kemampuan seseorang dalam membeli. Jadi ungkapan yang lebih cocok adalah “Aku membeli maka aku ada”. Karena segalanya cenderung diukur dari nilai materi. Konsumerisme sendiri seolah menjelma menjadi agama baru, dengan mall-mall sebagai tempat sucinya dan iklan-iklan sebagai khutbahnya.

Daniel Johan setuju jika dampak negatif dari budaya konsumerisme itu salah satunya adalah merebaknya korupsi. Budaya konsumerisme membuat orang berlomba-lomba mengejar kekayaan materi dengan menghalalkan segala cara termasuk korupsi.

Untuk menangkal hal itu, saran anggota legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, kita harus mensyukuri apa yang telah diberikan dalam kehidupan ini mulai dari setiap hembusan nafas. “Aku bernafas maka aku ada,” tegas Daniel Johan lembut.

Basis Pangan Nasional

Sebagai salah satu putra terbaik Kalimantan Barat, Daniel Johan sangat berterimakasih kepada masyarakat Kalimantan Barat yang telah mempercayainya menduduki kursi DPR RI. Bungsu dari enam bersaudara ini juga berharap bisa mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya. “Kita harus menjawab kepercayaan yang sudah diberikan rakyat Kalbar dengan kerja yang benar, kerja yang full, untuk kemajuan Kalbar,” imbuhnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Harapan itu mendapat angin segar dengan ditempatkannya Daniel Johan di Komisi IV DPR RI yang membidangi sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, serta pangan. Pasalnya, keempat bidang tersebut merupakan masalah yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.

Pemuda berdarah Tionghoa itu yakin, Kalimantan Barat mampu menjadi basis pangan nasional sebagaimana yang telah dicanangkan pemerintah. Namun demikian, program ini hanya dapat terwujud jika diperjuangkan bersama. “Ini bukan perjuangan satu-dua orang. Ini perjuangan harus sinergi dengan seluruh pihak. Pertama, pemerintah daerah atau kabupaten. Kedua pemerintah provinsi. Terus pemerintah pusat, kerjasama legislatif dengan eksekutif. Termasuk dengan masyarakatnya kita harus sosialisasi dengan baik,” jelasnya.

Daniel Johan menilai, upaya yang telah dilakukan dalam mewujudkan Kalbar sebagai basis pangan nasional, sejauh ini telah berada di jalur yang tepat. Dengan diterapkannya metode Hazton dan food estate, ia percaya program itu akan segera menuai hasil. Metode Hazton adalah cara menanam padi dengan menempatkan banyak bibit dalam lubang tanam, mencapai 20-30 butir bibit padi, sehingga hasil panen dapat meningkat hingga 100%. Hazton sendiri merupakan akronim dari Ir. H. Hazairin, Ms dan Anton Kamarudin Sp, M.Si, penemu metode tersebut. Adapun food estate adalah pengembangan produksi tanaman pertanian berskala luas. “Kedua hal ini menjadi bagian utama dari ikhtiar kita,” katanya.

Pertama Keluarga, Kedua Gus Dur

Sarjana Ekonomi jebolan Universitas Tarumanegara ini tidak sudi dianggap sebagai orang baru dalam dunia politik. Baginya, ia juga telah berpolitik sejak aktif dalam dunia pergerakan saat jadi mahasiswa. Jadi upayanya terjun ke partai politik tak lebih merupakan langkah lanjutan dari apa yang telah ia rintis sejak berstatus mahasiswa.

Ternyata, apa yang diperjuangkan Daniel Johan tidak terlepas dari nilai-nilai yang ditanamkan kedua orangtuanya sejak ia kecil. Dan kejujuran merupakan bagian utama dari nilai-nilai itu. Sehingga, ia tak bisa tinggal diam jika ada kecurangan yang terjadi di lingkungannya berada. Terbukti, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), penyayang binatang ini telah memimpin teman-temannya berunjukrasa menuntut pengusutan dugaan penyelewengan dana dari yayasan tempatnya bersekolah.

Tak berhenti sampai di situ, semangat antiketidakadilannya berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Di sini orangtuanya sempat merasa khawatir. Apalagi, sejak bergulirnya demo besar-besaran mahasiswa pada 1998, nama Daniel Johan sempat masuk daftar aktivis yang harus diamankan/diculik oleh pihak militer. Namun berkat kekerasan hatinya membela kebenaran, orangtuanya akhirnya mengalah. “Waktu itu Mama cuma kasih satu syarat: ke mana-mana harus bawa handphone,” kenangnya.

Sejak saat itu dukungan keluarga mengalir lancar bagi perjuangan Daniel Johan. Dan dukungan itu semakin nyata ketika ibunya, setelah melihat liputan demo mahasiswa di televisi, rela tidak tidur semalaman demi membuat makanan ringan yang akan dibagikan kepada teman-teman anaknya. “Itu dukungan nyata pertama dari keluarga,” akunya.

Selain keluarga, ada satu nama lain yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dari seorang Daniel Johan. Ialah presiden kempat Indonesia Abdurahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. “Jadi keluarga itu nomor satu, Gus Dur yang kedua,” terang mantan Staf Khusus Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) itu menjelaskan peran penting Gus Dur dalam perjalanan hidupnya.

Menurut Daniel Johan, selain pertemanan eratnya dengan Muhaimin Iskandar, Gus Dur pulalah yang mendorongnya bergabung dengan PKB. Ia masih ingat pesan Gus Dur kepadanya untuk selalu berjuang membesarkan Nahdlatul Ulama (NU) dan PKB. Yang mana tujuannya bukan untuk kepentingan agama, melainkan demi terjaganya Pancasila sebagai dasar berbangsa.

Gabungan dua pengaruh tersebut saja sudah cukup membuat karakter Daniel Johan menjadi kaya. Lebih-lebih ditambah pengaruh lingkungan selama ia menjadi aktivis. Dengan modal itulah ia memberanikan diri mencalonkan diri menjadi anggota legislatif untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kalbar. Tak cukup dengan modal itu, Daniel Johan juga menambah usaha melalui interaksi langsung dalam mayarakat dengan berkunjung ke 809 desa di Kalbar. Ia mengaku telah berjabat tangan dengan sekitar 29.000 orang selama kunjungannya itu. Dan ternyata, walau tak menggunakan money politic, ia berhasil meraup suara sebanyak jumlah yang hampir sama dengan jumlah orang yang dijabat tangannya itu. Akhirnya perpaduan antara darah Tionghoa, aktivis Buddhis, aktivis pergerakan mahasiswa, dan bendera PKB, menjadi kekuatan luar biasa yang mampu menarik simpati masyarakat Kalbar untuk memberikan dukungan kepada Daniel Johan menjadi Anggota DPR RI. Dan sebagai wujud rasa terima kasih, Daniel Johan bertekat mendedikasikan segala perjuangannya untuk Bumi Khatulistiwa.

Terkait

  • Saenal Syam: Pengembala Sapi Siap Jadi Bupati
  • Pilihan Politik TB Ace Hasan Syadzily
  • MS HIDAYAT: Menjalani Panggilan Ibu Pertiwi
  • Marwan Ja’far: Demokrasi Terlalu Bertumpu Kepada Kekuatan Uang
  • Abdul Khaliq Ahmad: Memimpikan Politik yang Beretika, Indah dan Tanpa Kebohongan

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>